Powered By Blogger

Selasa, 20 Maret 2012

Retinol Disaster: Sleeping (not long lasting) Beauty


                Aurora jalan berjingkat-jingkat menuju ruang tenun, ruangan yang selama ini dilarang  untuk dikunjungi oleh Ayah dan Ibunya. Ayah dan Ibu Aurora adalah Raja dan Permaisuri Kerajaan Antah Berantah. Namun ia tetap masuk ke dalam ruangan yang ada di puncak menara itu.
Ketika Aurora memasuki ruangan dalam menara yang diterangi cahaya dari jendela, ia menemukan seorang nenek yang sedang memintal benang. Nenek itu terlihat kuyu dan lelah.
                “Nyonya, mengapa Anda ada di sini” tanta Aurora kepada nenek yang sedang memutar mesin pemintal benang.
                “Puteri Aurora, aku adalah tawanan Ayahmu, aku adalah permaisuri dari Kerajaan Atas Angin yang kalah dalam peperangan.  Suamiku Sang Raja, oh semoga Tuhan memberkatinya, meninggal di dalam penjara, sedangkan  Aku dihukum untuk memintal benang seumur hidupku. Benang sepanjang puluhan kilometer. Benang ini akan ditenun untuk dijadikan gaun penghuni kerajaan. Termasuk gaunmu”.
                “Mengapa kau tau namaku Nek? Aku bahkan baru saja melihatmu” Aurora duduk mendekati nenek pemintal benang.
                “Aku sudah mengenalmu sejak kau lahir Nak, saat kau lahir kau begitu cantik. Kulitmu sangat putih dan pipimu merah seperti apel liar, saat perayaan kelahiranmu aku diperbolehkan menyaksikan kelahiranmu oleh pengawal Raja, namun tetap saja kakiku dirantai” Nenek pemintal benang menatap mata Aurora.
                Aurora merasakan kepedihan dihatinya, ia merasa sedih karena nenek setua itu masih harus bekerja memintal benang seumur hidupnya. Selain itu, Ia juga merasa marah kepada Ayahnya, karena ayahnya begitu tega mempekerjakan wanita tua yang seharusnya menikmati masa tuanya dengan cucunya. Ia bertanya dalam hati mengapa Raja tidak mengampuni nenek pemintal benang saja? Apakah nenek ini terlalu berbahaya?
                “Nenek, apakah aku boleh membantumu memintal benang?” Tanya Aurora dengan tatapan penuh iba
                “Jangan nak, jika ketahuan, Aku akan dibunuh” Nenek pemintal benang menolak keinginan Aurora
                “Tidak nek, aku akan berusaha supaya tidak ada yang tahu, besok aku akan kembali lagi ke sini. Sudah saatnya aku latihan berkuda. Aku janji tidak akan menanyakan keberadaanmu kepada Ayah dan Ibuku”
                “Baiklah jika Engkau begitu mengingkan untuk membantuku, besok Puteri boleh ke sini” Nenek pemintal benang akhirnya mengizinkan Aurora datang pada keesokan hari
 ***

                Aurora menuruni menara dengan hati yang sedih. Ia tak menyangka Ayahnya yang terkenal bijak dan adil, sanggup melakukan perbuatan sekejam itu. Apalagi hal tersebut dilakukan terhadap wanita yang sudah lanjut usia. Ketika Aurora berlatih kuda Ia juga tak dapat berkosentrasi. Ia hampir saja terjatuh dari kuda, saat Istor, kuda tungganganya, melewati palang. Begitu juga saat Aurora menikmati makan malam, ia tersedak puding pencucui mulutnya.
                Ratu keheranan dengan sikap Aurora hari ini. Ia menanyakan penyebab mengapa Aurora tidak dapat berkosentrasi penuh hari ini dan terlihat agak muram, tidak seperti biasanya. Sehari-hari Aurora selalu bertingkah ceria, senyum tak pernah pudar dari bibirnya yang mungil dan Ia selalu dapat melakukan segala sesuatunya dengan baik. Aurora agak kaget dengan pertanyaan Ibunya. Ia menjawab bahwa hari ini Ia sedang bosan saja dengan lingkungan Istana. Ia ingin pergi tamasya. Ibunya menawarkan untuk ikut berburu dengan Ayahnya ke hutan kabut namun Aurora menolaknya dengan sopan. Ia berkata pada Ibunya, ia hanya ingin berisitirahat saja di dalam kamarnya karena keinginan bertamasyanya sudah hilang.
                Ketika waktu tidur tiba, Aurora tidak dapat tidur dengan nyenyak di dalam kamarnya. Ia memikirkan nasib Nenek pemintal benang. Ia sangat ingin menolong nenek yang malang itu dan kemudian membebaskanya dari  menara. Ia menatap koleksi gaun yang ada di dalam lemarinya. Ia membayangkan betapa lelahnya nenek itu memintal benang untuk kemudian ditenun sebagai gaun yang jumlahnya tak terkira banyaknya. Ia merasa bersalah menggunakan gaun-gaun yang indah namun dibuat dengan rasa kesedihan. Ia baru sadar bahwa warna pada gaunnya tidak cerah, namun warnanya sendu. Aurora baru bisa tertidur ketika suara hatinya lebih keras dari kesunyian malam.
                Matahari sudah tampak, dayang-dayang istana membuka tirai jendela kamar Aurora. Sekejap sinar matahari menerangi seisi kamar. Aurora yang baru tidur sebentar terbangun oleh suara pelayan yang membawakan air hangat untuk mandi.
                “Helena, apakah hari sudah siang?” tanya Aurora sambil yang menipitkan mata karena silaunya mentari.
                “Ia Yang Mulia, kami tidak tega membangunkan puteri pagi-pagi seperti biasa, karena Yang Mulia tidur sangat lelap sekali. Seakan-akan tidur seratus tahun “ Helena tersenyum simpul.
                “Mengapa kau tidak membangunkanku saja? Aku harus.....” Tiba-tuba Aurora ingat bahwa Ia tidak boleh memberitahukan rencananya kepada siapapun untuk pergi ke menara. Ia menunda amarahnya karena Ia dibiarkan bangun siang. “Tidak apa-apa, aku mengerti kau sengaja memabangunkanku ketika aku sudah puas tertidur, terimakasih Helena, kau memang seorang dayang yang baik”
                Setelah Aurora selesai mandi dan berpakaian, Ia bergegas pergi ke menara. Ia bilang kepada dayang-dayang Istana bahwa Ia ingin pergi ke danau belakang istana untuk menenangkan diri. Ia tidak ingin dikawal hari ini. Dayang-dayang mengerti keinginan Nonanya, karena sedari kemarin Ia melihat perubahan sikap Aurora yang terlihat jenuh.

***
                Aurora pergi ke menara secara diam-diam, ia berpura-pura berjalan ke arah danau. Setelah ia berjalan mencapai taman bunga tulip ia berjalan memutar ke arah menara yang memang tidak dijaga oleh pengawal. Sesampainya di menara, Ia mendapati nenek pemintal sedang memasukan gulungan kapas ke pemutar benang.
                “Selamat siang Nek, maaf aku datang terlambat” Aurora mencium pipi Nenek yang malang itu
                “Tidak apa-apa Nak, kamu terlihat lelah sekali. Apa yang puteri pikirkan?” Nenek pemintal benang seperti dapat membaca benak Sang Puteri
                “Aku kasihan pada Nenek, aku memikirkan bagaimana cara membebaskan nenek dari menara ini” Aurora menangis
                “Sudahlah Nak, jangan menangis. Lebih baik kau belajar memintal benang agar kesedihanmu terlupakan. Saat aku memintal benang dan kemudian menenun benang benang ini untuk dijadikan gaun yang indah, aku dapat melupakan kesedihanku Tahun demi tahun terlewati tanpa terasa. Ayo sini kemari, aku tunjukan cara memintal benang” Nenek pemintal benang menepuk lantai tempat ia duduk. Memberi tempat untuk diduduki Aurora.
                Aurora duduk di sebelah Nenek pemintal benang, Ia melihat cara Nenek memasukan gulungan kapas ke dalam alat pemintal. Kemudian ia melakukan cara yang sama. Setelah itu, Nenek pemintal benang memperlihatkan cara menggulung kapas agar serat-seratnya  dapat terpisah kemudian menjadi benang.
                Saat Aurora memasukan gumpalan kapas ke dalam jarum pemintal sebelum memasukanyaa ke dalam putaran, jari telunjuknya tertusuk jarum. Seketika pandanganya berkunang-kunang. Ia terkulai lemas.
                Nenek pemintal benang tiba-tiba berubah wujud menjadi nenek sihir yang menakutkan. Gaun putihnya yang kusam berubah menjadi gaun hitam dengan kerah yang tinggi. Rambut putih keperakannya berubah menjadi hitam pekat. Matanya yang teduh berubah merah.
Nenek pemintal benang yang berubah menjadi nenek sihir itu tertawa dan berkata
                “Tuntas sudah dendam masa laluku, kau akan mati Puteri yang cantik. Jarum itu beracun. Apakah kau lupa bahwa kau tidak boleh menyentuh jarum oleh Ibumu?” Nenek sihir membelai rambut Aurora dan menjambaknya
                Dalam kelemahan tubuhnya Aurora mengingat dua larangan Ibunya yaitu naik ke menara istana dan tidak menyentuh jarum. Bahkan di Istana ia tak pernah melihat jarum sebatangpun. Kemudian dia tak sadarkan diri sepenuhnya.

****

                Ingatan Sang Nenek Sihir terbawa ke masa enam belas tahun yang lalu, saat Aurora baru dilahirkan. Saat itu Sang Raja mengundang enam peri hutan untuk memberkati kelahiran Aurora. Masing-masing peri memberikan berkah berupa kecantikan, keselamatan, kesehatan, kemakmuran, kebaikan hati dan ketegaran jiwa. Namun Sang Raja lupa mengundang Peri Hitam yang kini berubah menjadi nenek sihir. Peri Hitam adalah peri yang bertanggungjawab atas sihir yang melindungi Istana dari marabahaya. Ketika semua peri selesai melakukan pemberkatan, Peri Hitam mengutuk puteri bahwa ketika berumur enam belas tahun Ia akan mati tertusuk jarum.
                Saat Perti hitam meninggalkan istana, Raja dan Ratu amat ketakutan. Ia meminta peri-peri tersebut mencabut kutukan Peri Hitam. Tidak ada satupun yang dapat mencabut kutukan tersebut kecuali Peri Hitam, yang sudah tak sudi lagi kembali karena merasa terhina.  Peri keselamatan melakukan pencegahan kutukan, dengan cara merubah kutukan tersebut. Jika pada umur enam belas tahun Sang Puteri tertusuk jarum, maka ia tidak akan wafat namun hanya akan tidur hingga ada Pangeran yang tulus mencintainya kemudian mencium sang Puteri untuk membangunkannya.
                Mulai saat itu Raja mengeluarkan titah agar seluruh pihak Istana harus menjaga puteri supaya tidak menyentuh jarum dan menyembunyikan mesin pemintal serta penenun di dalam menara Istana.
                Nenek Sihir meninggalkan tubuh Sang Puteri yang Ia kira telah mati. Kemudian Ia terbang dengan naga biru tungganganya menuju balai pertemuan Istana . Tempat Raja dan Ratu menerima kedatangan rakyat yang ingin mendengarkan keluh kesah rakyat. Kedatangan Nenek Sihir tentu saja membuat Raja dan Ratu kaget. Begitu pula dengan rakyat dan pengawal yang sedang ada di dalam balai pertemuan.
                “Raja yang angkuh dan sombong, puteri tunggalmu telah mati karena tertusuk jarum yang sudah aku kutuk. Kini dendamku sudah terbalaskan. Kau tidak lagi memiliki penerus tahta. Kerajaanmu akan musnah” Nenek Sihir tertawa terpingkal-pingkal lalu pergi meninggalkan balai pertemuan.
                Raja dan Ratu segera pergi menuju menara Istana dengan pengawalan ketat. Mereka mendapati Puteri Aurora sudah tertidur lemah tak berdaya. Pengawal memindahkan Sang Puteri ke dalam kamarnya. Ratu meminta Helena memanggil peri hutan untuk memecahkan masalah.
***
                Tak berapa lama kemudian, enam peri yang dahulu memberkati Puteri Aurora datang ke Istana. Mereka melindungi Istana dengan selubung ajaib, untuk berjaga-jaga agar Nenek Sihir tidak datang kembali. Setelah masalah perlindungan Istana terselesaikan timbul lagi masalah baru.
Ratu takut jika nanti suatu saat ada Pangeran yang menyelematkan sang puteri kemudian puteri bangun, Ia akan ketakutan dan bingung karena semua orang di Istana sudah tiada. Raja juga memiliki pikiran yang sama. Ia meminta Peri Keselamatan memikirkan cara bagimana caranya agar nanti saat Sang Puteri bangun ia tak terkejut karena dalam waktu ratusan tahun segala sesuatunya akan berubah.
                Peri keselamatan menemukan ide yang disetujui oleh Raja dan Ratu. Ia akan membuat seisi istana tertidur. Sebelum hal itu dilakukan, Aurora yang tertidur seperti bayi dipindahkan ke kamarnya, didandani seperti mempelai wanita. Raja dan Ratu duduk di atas singgasa. Setelah itu peri keselamatan memantrai raja dan ratu. Maka raja dan ratupun tertidur pulas. Tanpa diketahui pekerja istana, peri juga memantrai mereka.
                Di dapur, koki yang sedang mengiris kubis tertidur, pembuat roti yang sedang membanting adonan berhenti saat adonanya terlontar ke langit dapur. Di kebun, para tukang kebun yang sedang memotong rumput, berhenti serentak saat mereka sudah memotong rumput setinggi lima inci. Di binatu, para tukang cuci yang sedang membilas kain, berhenti mendadak saat mereka memasukan kain ke dalam air. Dayang-dayang yang sedang berkumpul di ruang rumahtangga, diantaranya ada yang bergosip, tertidur dalam posisi beridiri, duduk dan tertawa. Pengawal yang memang jarang bergerak nampak lebih mirip dengan patung-patung logam berbaju zirah. Kuda dan binatang peliharaan istana lainnya juga tertidur di kandang-kandang mereka. 
Peri Keselamatan tidak hanya membuat seisi istana tertidur, Ia juga menyelubungi istana dengan rerumputan, semak dan daun-daun rambat sehingga seiring berjalannya waktu istana nampak seperti hutan belukar. Sedangkan,  rakyat di sekitar tembok istana, dibuat lupa akan keberadaan istana oleh Peri Keselamatan.
****
                Tahun-tahun berlalu, akhirnya Negeri Antah Berantah benar-benar hilang dari pandangan dan ingatan. Yang ada hanyalah hutan gelap menyeramkan. Rakyat antah berantah berangsur-angsur pindah ke negeri lain karena tersebar rumor bahwa di hutan gelap tersebut ada kerajaan oger, mahluk hijau besar yang gemar menyerang dan menyantap binatang ternak, bahkan manusia!
                Pencari rumput tak berani melintasi hutan gelap tersebut, meskipun rumput yang tumbuh di hutan gelap nampak hijau dan menggiurkan bagi ternak. Penggembara dari penjuru negeri yang penasaran dengan keberadaaan hutan gelap tersebut akan mengurungkan niat menerobos masuk hutan karena tempo-tempo ada suara bisikan aneh dari dalam hutan, jika didengarkan suara tersbut seperti berkata, ssssssssttttt......nampaknya dagingmu lezat. Padahal itu hanyalah suara gemersik dedaunan. Bisikan itu hanyalah rumor yang dipercaya sebagai kenyataan.
                Suara burung gagak yang berkoak setiap malam dan kelelawar yang berterbangan dari balik hutan gelap menambah kesan menakutkan. Masyarakat makin lama makin mepercayai bahwa hutan gelap itu emmang tempat tinggal oger yang gemar memelihara gagak dan kelelawar.
Keadaan ini berlangsung hinga enam ratus tahun kemudian.....


****
                Cerita mengenai hutan gelap yang angker tersebut sampai hingga ke negeri seberang lautan. Cerita itu menarik perhatian seorang pangeran yang gemar berpetualang. Pangeran itu bernama Rex, yang terkenal sebagai bujang playboy paling tampan di dunia. Rex ingin menerabas hutan gelap tersebut untuk membuktikan pada dunia bahwa, itu hanyalah hutan bukan sarang bangsa oger. Sebenarnya, beberapa hari ini, Rex mendapatkan mimpi yang sama. Inilah yang menadi alsan utamanya untuk pergi ke hutan angker itu.
                Di dalam mimpi tersebut, ia melihat seorang puteri cantik tertidur di tengah hutan. Puteri tersebut memiliki rambut yang bewarna cokelat keemasan. Pipinya kemerahan. Bibirnya mungil dan bulu matanya sangat lentik. Namun disekeliling ranjang sang puteri, terdapat duri. Dalam mimpi, Pangeran Rex mencoba menerabas duri tersebut dengan pedang dan berhasil menyelamatkan sang puteri. Tetapi ketika ia ingin membawa puteri tersebut, mimpinya selalu berakhir dengan bayangan kabut.
****
                Pangeran Rex mengendarai jip cherokee ketika ia pergi menuju hutan gelap yang sebenarnya merupakan istana besar yang tertutup semak belukar. Perjalananya memakan waktu seminggu karena ia juga harus menggunakan ferry untuk menyebarangi selat. Ketika itu, lautan sedang tenang, tidak ganas seperti biasanya.
                Sesampainya di depan hutan gelap, penduduk memperingatkan agar Pangera Rex tidak melanjutkan niatnya karena terlalu berbahaya, namun Pangeran Rex meyakinkan semua penduduk agar mereka yakin dan percaya bahwa dirinya akan keluar dengan selamat. Penduduk menyerah dengan sikap keras kepala Pangeran Rex.  Dengan langkah ringan, Pangeran Rex memasuki hutan gelap. Ia menyalakan senter. Tak lupa di balik jaketnya is sematkan senapan angin, untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu ada beruang hitam yang menyerang.
                Pangeran Rex kaget karena di dalam hutan gelap yang dipenuhi oleh semak belukar, lilitan akar, sulur-sulur tanaman rambat yang centang perenang terdapat sebuah istana. Pangeran Rex teringat akan istana yang ada di dalam mimpinya. Tanpa menunggu ia membuka gerbang istana yang ternyata tidak dikunci. Keadaan di dalam istana seperti istana tempat ia tinggal. Namun semua orang yang ada di dalam istana tidak bergerak dan tentu saja perabotanya tidak sekuno di istananya.           Saat Pangeran Rex menyentuh salah satu pengawal, ia mendapati bahwa tubuh si pengawal hangat, malah jantungnya berdetak. Kuda yang di dalam istal juga, dayang-dayang yang ada di dalam posisi membungkuk untuk mengambil serbet yang jatuh juga masih bernafas, hanya matanya terpejam.
                Pangeran Rex takjub sekaligus juga bertanya-tanya. Apakah mereka sungguhan manusia atau jangan-jangan mereka benar bangsa Oger. Namun Pangeran Rex mampu membuat dirinya kembali tenang. Karena Bangsa Oger memiliki kulit hijau dan tinggi badan yang melebihi tinggi manusia pada umumnya. Mereka memiliki tinggi badan minimal tiga meter.
                Pangeran Rex yang hidup di abad ke 21, melihat fenomena ini sebagai kerjaan ilmuwan gila yang hasil penelitiannya belum dipublikasikan. Namun bisa juga manusia-manusia yang ada di dalam istana tua ini adalah bionic. Setengah manusia setengah mesin. Seketika Pangeran Rex mengambil Ipad dan membuka jaringan internet untuk mencari informasi mengenai istana hilang di sebuah Pulau  di Samudera Atlantik. Sayang sekali, di dalam istana tidak ada sinyal.  Hal itu dianggap Pangeran Rex sebagai keuntungan karena, bisa jadi dirinya adalah penemu pertama peradaban yang hilang, pemecah misteri hutan gelap dan petualang pertama yang berhasil mempublikasikan hasil penelitian ilmuwan gila. Bahkan dirinya telah melihat sosoknya  sebagai model sampul majalah National Geographic, dengan headline: Rexi (panggilan akrabnya) Si Penemu Istana Bionic Abad Pertengahan.
                Sadar bahwa dirinya telah berkhayal, Pangeran Rex yang wajahnya mirip seperti Jude Law namun berambut brunnet, segera meneruskan langkahnya dengan tergesa-gesa ke kamar si puteri, sesuai yang ada di dalam mimpinya. Ia hampir saja menjatuhkan vas bunga yang anehnya berisi bunga segar dari atas  meja yang ada di dekat pintu masuk kamar.
                Langkah Pangeran Rex seketika terhenti ketika ia melihat  sesosok gadis cantik yang terbaring dia ats ranjang berseperai putih. Gadis itu sangat mirip dengan puteri yang ada di dalam mimpinya. Rambut yang bewarna cokelat keemasan. Pipinya kemerahan. Bibirnya mungil dan bulu matanya sangat lentik. Puteri itu menggunakan gaun panjang berwarna putih. Namun di sekeliling ranjang tidak ada duri, dengan mudahnya Pangeran Rex mencium Aurora. Bibirnya beraroma manis.
                Sang puteripun terbangun. Namun ia kaget karena dihadapanya ada sesosok pria yang berpakaian aneh. Saat itu Pangeran Rex menggunakan kacamata riben cokelat, dalaman turtle neck hitam yang ditumpuk dengan vest bewarna salem, trench coat warna cokelat, syal wool abu-abu dan ankle boots berbahan suede warna cokelat tua. Wangi parfum Pangeran Rex juga aneh, seperti buah peach. Sangat feminin bagi orang-orang abad pertengahan. Rambut Pangeran Rex yang berpotongan simple cut, menambah kesan asing bagi dalam pandangan Puteri Aurora.
                “Hey, gadis cantik kau sudah bangun?, kenalkan aku Rex Von Vaughan” Rex memberikan tangan kananya untuk bersalaman
                Aurora tidak menjawab, ia masih bingung dengan keadaan dirinya, sekelilingnya dan sesosok pria tampan yang ada dihadapanya, yang barusan mencium bibirnya. Lalu ia mencubiti dirinya untuk memastikan ini bukanlah mimpi.
                “Kau tidak mau menerima jabatan tanganku?” Pangeran Rex  membiarkan tanganya menggantung.
                Dalam adat kerajaan abad pertengahan, tidaklah sopan meminta jabat tangan kepada puteri raja. Pria terhormat harus membungkukan badan kemudian mencium tangan sang puteri, dan jangan meninggalkan kecupan basah.
                “Aku Aurora, kau pangeran? Dari negeri mana? Ayahku tidak pernah mengundangmu sebelumnya” Puteri Aurora membalas jabatan tangan Pangeran Rex dengan cepat, lebih mirip tos.
                “Sungguh kau tidak tau? kau tidak pernah membaca Royal Gossip Magazine atau membuka website pribadiku, Rextheman.com? Aku cukup terkenal di dunia ini. Oh ya aku lupa kerajaan ini terisolir. Mungkin kalian juga melewati berbagai macam peristiwa dunia seperi Perang Dunia, Perang Dingin, Perang Korea, Ledakan menara kembar WTC, dan Pengakuan Ricky Martin bahwa dia gay. Ya ampun, bahkan aku pernah menjamu dirinya, tahan dulu disitu, jangan tatap aku seperti itu, aku bukan homophobia” Padahal Puteri Aurora menatapnya dengan tatapan kekaguman penuh cinta. Tatapan wanita pada calon ayah bagi putera-puterinya kelak.
                “Apa yang kau bicarakan? Ia melihat sekeliling kamarnya dipenuhi tanaman rambat dan juga gelap.Seketika ia ingat nenek pemintal benang yang ada di menara yang berubah menjadi nenek sihir. “Di mana nenek sihir itu, astaga, aku tak menyangka jika dia wanita jahat” Aurora seketika terbangun, namun kepalanya mmendadak pusing ia duduk kemudia bersender pada kepala ranjang.
                “ Nenek sihir? Mesin pemintal benang? Ya ampun gadis cantik, kau pikir ini abad berapa? Mana ada hal-hal semacam itu, ini abad 21. Omong-omong di mana dapur? Aku bisa membuatkan minuman hangat untukmu, supaya pikiranmu kembali sehat, ku rasa kamu terlalu banyak menenggak anggur semalam ”
                “Abad 21? Tidak kau bohong, aku tertidur pada tahun 1412, Aku tidak mungkin tidur selama itu. Apa ini? Tipuan macam apa ini? “ rasa penat di kepala Aurora semakin parah
                “Kau sungguh mabuk puteri cantik.....ya memang sih gaya dandananmu  sungguh ketinggalan zaman, pakaianmu seperti dalam lukisan nenek moyangku”

****

                Tiba-tiba pengaruh sihir Peri Keselamatan hilang, seisi istana terbagun. Di dapur, koki yang sedang mengiris kubis, kembali mengiris sisa kubisnya, adonan pembuat roti yang terlontar ke langit dapur kembali ke atas meja,. Di kebun, para tukang kebun kembali menggunting kebun. Di binatu, para tukang cuci kembali membilas kain. Dayang-dayang yang sedang berkumpul di ruang rumahtanggakembali meneruskan pergunjingan tentang bangsawan. Pengawal yang memang jarang bergerak serampak menoleh untuk berjaga-jaga. Raja dan Ratu yang ada di singgasa, bangun dari tidurnya lalu menghampiri Puteri Aurora yang sedang duduk dan Pangeran Rex yang ada di samping ranjang. Seluruh tanaman rambat, sulur-sulur daun, semak, lilalang dan kegelapan yang menyelubungi istana seketika hilang. Kini Istana kembali pada bentuknya semula. Bangunan kastil khas abad pertengahan yang berdiri kokoh di atas Pulau Antah Berantah.
                “Anakku.... kau sudah bangun. Selamat Pagi jantung hatiku” Ucap Sang Ratu berbaju tunik sambil mencium kening Aurora
                “Ini dini hari kurasa” Rex, melihat jam tangan Bulgarinya, jarum jam menunjukan angka dua
                “Duhai pangeran tampan, sudahkah yang mulia sudah memperkenalkan diri?” Ratu berdiri menunggu Pangeran Rex membungkukan diri dan mencium tangan Ratu
                “Hamba adalah Rex Von Vaugh Yang Mulia” Secara otomatis Rex berdiri, membungkukan badan dan mencium ujung tangan sang Ratu
                “Terimakasih karena Anda, telah menyelamatkan anakku dari kutukan Peri Hitam”
                “Kurasa kalian benar-benar mabuk” Pangeran Rex mengendurkan syalnya
                “Kami tidak mabuk Tuan Von Vaugh, lihat bekas luka di ujung telunjuk Puteri Kami, Aurora itu adalah bekas tusukan mesin pemintal benag yang dudah dimantaerai oleh Paeri Hitam”
Pangeran Rex. Melihat telunjuk Puteri Aurora da berkata “Nampaknya ini tidak begitu parah, kau hanya perlu cairan anitiseptik” menghempas telunjuk puteri
                “Kau harus menikahi puteri kami, karena kau telah menciumnya” Ucap Raja ,  kemudian Ia memanggil Pendeta Istana
                “Tunggu-tunggu apa-apaan ini, apakah ini jebakan April Mop? Apakah banyak kamera di sini? ini pasti kerjaan teman-temanku. Aku tidak mau menikahi puterimu Tuan, kami baru saja kenal beberapa jam. Lagipula aku tak mau menerima resiko menikahi perempuan yang salah”
                “Benarkah kau tidak mencintai puteriku? Mengapa kau datang pada kami sesuai ramalan Peri Kesalamatan. Mengapa kau menciumnya?” Ratu bertanya dengan lirih
Pangeran Rex kembali mengingat mimpi-mimpinya. Lama kelamaan ia memikirkan bahwa hal ini sudah ditakdirkan. Semacam masa untuk mengakhiri petualangan cintanya. Aurora sangat cantik. Dan gayanya classic. Rex suka dengan gadis yang inossen, typical calon ibu yang baik. Tidak seperti gadis-gadis lainnya yang ia pernah pacari. Tipe gadis-gadis penggila pesta dan tak memiliki insting keibuan sama sekali. Ia juga merasa Aurora dan dirinya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dijelaskan. Seperti belahan jiwanya. Dadanya mengalami desiran aneh, desiran yang disebut sebagai tanda cinta dalam artikel RealLove, yang ditulis Operah Winfrey. Pangeran Rex menganggap Raja, Ratu, Puteri dan seisi istana adalah orang-orang eksentrik yang memilih hidup dengan gaya abad pertengahan
                “Baiklah aku akan menikahinya, mmmmm.... sebaiknya kita langsungkan pernikahan pada pagi hari. Maksudku ketika hari sudah terang. Lagipula Ayah dan Ibuku harus menghadiri upacara pernikahan bukan? Juga wartawan-wartawan. Biar nanti asistenku menghubungi mereka dan mereka akan diantarkan kesini menggunakan helikopter Kerajaan dan juga....” sebelum Pangeran Rex menyelesaikan pembicaraan, Raja memotong kalimat Pangeran Rex
                “Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, namun sepertinya itu baik. Kami akan menyelenggarakan pernikahan saat hari sudah terang. Sebaiknya Pangeran, tidur di kamar tamu kami. Aku akan menyuruh juru masak Istana membuat hidangan isitimewa untuk pernikahan”
****
                Upacara pernikahan tiba, Altar pernikahan dibuat di dekat tebing. Saat itu waktu menunjukan pukul sembulan pagi. Altar pernikahan dibuat dari tanaman ranting-ranting kayu yang dihias dengan bunga -bunga. Pemain musik istana memainkan lagu rakyat dengan alat musik aneh. Wartawan dari berbagai penjuru meliput pernikahan eksentrik ini dari kejauhan. Raja dan Ratu agak pusing melihat helikopter yang diparkir di depan Istana, mereka menganggapnya itu benda sihir yang bisa terbang, menggantikan kereta kencana. Pakaian Orangtua Pangeran Rex juga aneh. Raja Josh von Vaughn menggunakan stelan tuxedo, sang permaisuri,  Ratu Euginia menggunakan gaun terusan selutut dari satin dan topi lebar. “Sungguh tidak sopan”,  ucap Ratu Kerajaan Antah Berantah dalam hati.
                Janji pernikahan dilakukan pada pukul sembilan lewat tiga puluh, matahari lumayan terik. Ratu Antah Berantah merasa kegerahan karena dia tidak mengerti duni saat ini sudah mengalami kenaikan suhu global. Bahan brokat bukanlah pilihan tepat. Keringat membasahi keningnya.
                “Maukah Anda, Aurora Borealis menerima Reximus von Vaughn sebagai suami Anda, dalam senang maupun duka. Menyayanginya hingga akhir hayat?” Pendeta bertanya kepada Puteri Aurora yang saat itu mengegenggam tangan Pangeran Rex.
                “Saya bersedia, menerima Reximus von Vaughn sebagai suami saya dan saya akan menjadi Ibu bagi anak-anaknya”
                “Atas berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, saya nyatakan Reximus von Vaughn dan Aurora Borealis sebagai pasangan suami isteri sah menurut hukum gereja dan hukum Kerajaan Antah Berantah, kalian boleh berciuman” Pendeta mengedipkan matanya. Hadirin tertawa. Salah satu kamera dari televisi nasional sebuah negara menyorot wajah Puteri Aurora yang tersipu malu.
Kemudian merekapun berciuman, diiringi tepuk tanga riuh keluarga dan teman-teman Pangeran Rex.
                Pada pukul Sepuluh pagi, matahari semakin meninggi. Tanpa disadari semua orang wajah Aurora dan seluruh penghuni Istana Negeri Antah Berantah, menjadi keriput. Rambut mereka memutih, kulit semua orang rontok dan berubah menjadi kerangka. Puteri Aurora berubah menjadi nenek yang bungkuk, lalu kemudian wafat dalam gaun pengantinya. Ia wafat dalam umur enam ratus tahun.
                Pangeran Rex melepaskan genggaman taanganya pada puteri Aurora, ia berteriak ketakutan. Seketika langir berubah menjadi gelap. Peri Hitam datang dengan naga birunya. Ia berkata: Orang-orang bodoh, Peri Keselamatan Bodoh. Lupakan kalian bahwa mantera retinolus tidak tahan pada paparan cahaya matahari. Sifat mantera awet muda itu bisa rusak seketika dan membuat wajah awet mudamu rusak dan kembali menua. Tak ada kemudaan yang abadi. Kalian lupa mengucapkan mantera SPF-15 yang bisa membantu. Hi Hi i HI” Peri hitam tertawa terpingkal-pingkal dan menghilang dari pandangan
                Seorang jurnalis dari Discovery Channel, mengungkapkan fenomena ini sebagai fenomena anti aging disaster.  CNN melaporkan kejadian ini sebagai bencana pernikahan teraneh sepanjang sejarah. Televisi lokal memberitakan kejadian ini sebagai pernikahan manusia dengan mumi. Pangeran Rex berubah menjadi pria gila. Ia terjun ke laut karena kejadian ini tak dapat diterima oleh akal sehatnya. Raja dan Ratu von Vaughn segera meninggalkan Istana dengan helikopter kerajaan, mereka melarikan diri ke sebuah tempat yang dirahasiakan, memindahkan pusat kerajaan dan menunggu kisah ini hilang dengan sendirinya. Kata orang gosip akan hilang selama tujuh puluh tahun.
****
Inilah akhir dari kisah Puteri Tidur, tidak ada akhir yang bahagia, tidak ada tulisan happily ever after di akhir halaman buku dongeng bergambar timbul anak-anakmu .







Depok, 20 Maret 2012


Princess Mega The Duchess Of Soendoro House








Tidak ada komentar:

Posting Komentar