Andai peterpan syndrome bukan sekedar penyakit tapi beneran ada. Andai gue berhenti tumbuh pada usia 12 tahun.....
Semakin dewasa gue smakin mengerti bahwa dunia adalah tempat yang tidak menyenangkan. Dalam dunia orang dewasa banyak sekali hal-hal yang gak gue mengerti. Bikin gue nyesel kenapa dulu waktu masih kecil pengen banget buru-buru jadi orang dewasa. Pengen pake baju yang dipake ibu gue, pake parfum yang dipake kakak gue, berharap boneka gue jadi anak sungguhan yang panggil gue mama dan menjadikan Bondan Prakoso, idola masa kecil gue, menjadi bapak dari boneka gue.
Lalu ketika gue beranjak tua dan kata Undang-Undang telah dewasa. Gue anulir lagi cita-cita gue dan menyesal kenapa dulu gue punya cita-cita pengen jadi anak gede.
Gue minta sama Tuhan, supaya gue tetep jadi anak-anak yang naif. Berpikir bahwa dunia itu seindah negeri fantasi. Bahwa orang-orang disekeliling gue itu rakyat negeri antah berantah yang semuanya baik. Berpikir dan bertindak dengan pikiran bahagia, bahagia dan bahagia.
Hal-hal Yang gue rindukan dari menjadi anak-anak adalah:
Pertama, Anak-anak bisa menyukai orang tanpa agenda tertentu. Bukan karena temenya kaya, punya kedudukan, anak si raja ini, bukan karena dia rupawan, bukan karena dia punya banyak mainan, bukan karena dia disukai oleh orang banyak. Anak-anak itu kalo suka sama orang platonik banget, tanpa syarat. Tapi dalam dunia orang dewasa lo kalo menyukai sesuatu harus dengan alasan. Jadi kalo ditanya orang, jawabanya ada supaya yang nanya puas. Gak boleh bilang gak tau. Karena menjadi tau adalah syarat menjadi orang dewasa.
Kedua, Anak-anak itu mudah memaafkan. Kesel hanya disaat itu juga. Mereka gak kenal pepatah I can forgive you but I never forget. Nggak, anak-anak gak seperti itu. Meskipun mereka disakiti temanya mereka akan terus main sama temen yang itu lagi. Karena mereka gak punya konsep menjadi palsu. Kalo mereka gak suka mereka akan bilang ke temanya lalu setelah itu mereka ketawa-tawa lagi. Dapatkah konsep ini dibawa ke orang dewasa? Gak mungkin banget, karena dunia orang dewasa itu adalah dunia yang berpedoman pada memori. Sekali lo bikin kesel gue maka gue akan mendendam. Kepercayaan akan terkikis ketika mendapat hal yang menyakitkan dari orang lain. Jadi sebenernya orang dewasa itu gak bisa memaafkan.
Ketiga, Anak-anak itu menjadikan imajinasi sebagai pedoman hidup mereka. Mereka gak dipatok dogma atau teori. Mereka bisa dengan semaunya bilang pohon-pohonan yang ada di pekarangan adalah tempat tinggal kurcaci. Menganggap tempat tidur mereka itu adalah kapal bajak laut. Melukis langit dengan warna magenta. Mengajak bicara anjing peliharaan. Menganggap rumahnya adalah istana boneka. Anak-anak gak perlu gadget yang canggih-canggih. Cukup dengan kotak rokok bekas ayahnya saja , anak-anak udah bisa jadiin itu bus antar kota. Dalam dunia orang dewasa imajinasi dianggap sebagai kegilaan. Karena menjadi berbeda dianggap gila. Atau dibilang ih lo kayak anak-anak aja suka ngayal. Padahal orang dewasa seneng banget berimajinasi menjadi orang lain. Mereka mengimitasi gaya orang lain. Berpura-pura bahwa mereka bahagia melalui kepalsuan-kepalsuan dan pencitraan. Pura-pura bahwa materi adalah segalanya. Bahagia dengan apa yang mereka pakai bukan bahagia dengan diri mereka sendiri. Sebenernya mereka pengen nangis gegerungan seperti anak-anak, yang menangis dengan bebas dimana saja. Lalu mengundang amarah orang dewasa (lainnya).
Keempat, ketika menjadi anak-anak, kita tidak divonis sebagai orang bodoh saat melakukan kesalahan atau belum tahu. Tidak dianggap idiot ketika makan celemotan. Tidak dianggap kampungan ketika bertanya “Nyalain tivi gimana si caranya?” atau memandang gedung bertingkat dengan pandangan takjub. Menjadi orang dewasa adalah harus bersikap tau dan paham segalanya. Lo gak boleh gak tau perkembangan terbaru. Gak boleh menjadi inosens. Laiknya lo lahir terus udah pinter dari sananya. Makanya banyak banget kan orang dewasa yang sok tahu dan kepedean? Karena bagi orang dewasa, bertanya adalah pertanda kesesatan pikiran.
Kelima, ketika menjadi anak-anak lo gak punya rasa parno berlebihan. Palingan yang lo takutin cuman setan, ditinggal orangtua lo tanpa dikasih uang jajan atau takut jatuh dari sepeda. Saat menjadi anak-anak lo gak takut sama makanan berformalin, berpewarna, berzat pengawet dan menggunakan pemanis buatan. Yang lo tau makanan itu kalo bewarna bagus dan berasa gurih adalah enak. Coba orang dewasa? Mereka tu takut dan parno ngeliat jajanan yang di jual di sekolah. Memandang jijik ke arah saos warna oren di gerobak abang-abang bakso kojek atau akan teriak ketika anaknya makan mie mentah dengan bumbu bermecin. Anak-anak juga gak curigaan. Mereka nganggep semua orang itu baik. Makanya anak-anak sering jadi korban penculikan.
Terus, anak-anak itu gak pernah mikirin negara. Gak peduli konspirasi. Yang dipikirin hanya main, makan enak, dapet pelukan dari mama-papa. Tidur terus main lagi. Belajarnya kapan? Ya itu dalam bermain-main tadi sesungguhnya anak-anak belajar. Belajar bersosialisasi, belajar berhitung dari bermain petak umpet, belajar berdagang dari main masak-masakan dan belajar berkesenian dari nyanyian rakyat. Orang dewasa saja yang tidak bisa memaknai cara belajar anak.
Terakhir, anak-anak itu adalah pihak paling netral dalam berkeyakinan. Sesuai istilah orang jaman dulu. Anak-anak itu kertas putih. Menurut gue anak-anak itu berTuhan tapi belum beragama. Mereka memandang semesta lebih dalam dari orang dewasa. Bebas berinteprasi Tuhan itu kayak apa. Orang dewasa takut berinterpretasi tentang Tuhan. Karena mereka hidup dalam dogma kaku. Ada ketakutan dibilang kafir. Oh ya, Coba lo suruh anak-anak berdoa sesuai kata hati mereka. Tulus banget deh. Gue pernah minta anak tetangga gue berdoa, dia sebut gini dalam doa: Ya Allah, moga Ibu sembuh biar bisa main sama aku lagi.......
Beda banget sama orang dewasa, yang ada di dalam sekat dalam berkeyakinan. Mereka seneng banget berebutan Tuhan. Kalo berdoa egois. Minta untuk dirinya sendiri. Minta dikasih rumah bagus, dikasih pasangan rupawan dan kesenangan pribadi. Lupa doain orang lain.
Itulah hal-hal yang gue rindukan saat gue menjadi anak-anak. Ini sudut pandang anak-anak gue aje ye. Ya kalo tulisan ini dianggap sebagai pembenaran. Gue harap, pembaca bisa ngerti, namanya juga anak-anak.....
Depok, 9 Desember 2011
-Mega-
-Mega-



semakin membaca tulisan ini gw jadi merasa sedih, I wish I could freeze the time. Tapi gw termasuk org yg sgt menikmati masa kanak2 pdhl lahir dari keluarga yg begitu kuat terbelenggu adat kejawen. gw gituloh cie..;) kalopun org bilg gw gak tau umur, gak bisa bersikap dewasa, eit...masa ? dewasa itu gak melulu jd org yg membosankan loh. selalu ada sisi kanak2 dlm jiwa kita yg cuma bisa bangun kalo dikondisikan & itu bukan cacat. get A live guys
BalasHapus