Powered By Blogger

Rabu, 16 November 2011

The O Factor: Menjelang Malam Penjurian

Simona adalah seorang juri salahsatu acara reality show terkenal di sebuah benua. Malam ini ia akan menghadiri Final acara tersebut. Dan dia adalah juri utamanya. Simona berjalan mondar-mandir demi memikirkan masak-masak keputusannya. Dua kandidat terbaik akan bersaing di final kali ini.
Pekerja Otak menyimpan berjuta2 keajaiban pikir sedangkan Pekerja Otot menunjukan kekuatan berbuat. Malam ini harus dipilihnya 1 diantara keduanya, pekerja otak atau pekerja otot. Apa yg dilakukannya saat itu pun sedang menyertakan keduanya. Melangkah mondar-mandir sebagai reaksi pikir, memakai otot. Namun untuk menghasilkan keputusan ia harus berpikir bersama otak.
"aku yang kau gunakan untuk berpikir dan memutuskan. Seharusnya akulah yg kau pilih Simona. Setiap hari aku disisimu, membuat kau hidup dan eksis. Bahkan Descartes pun mengakui keberadaan pentingku. Apalagi yg kau cari,sudah pasti aku lebih unggul drpada otot. Aku yg menggerakannya,karena akulah pusat yg mengendalikannya. Dunia lebih menghargai orang2 pintar,penuh ide dan berpikir cemerlang. Aku yg pantas mdapat penghargaan itu." suara otak berkampanye dalam dirinya
"Aku juga penting Simona. Aku yg membuatmu mampu berbuat. Denganku kau akan menjadi kuat, semua bisa kau lakukan. Walau dia yg mengendalikanku, tapi apa artinya jika segala pikir  yg dia berikan tidak kau perbuat. Tidak semua orang unggul dengan otaknya. Aku bisa kau latih untuk mlakukan suatu hal dan tak memerlukan pikiran. Kau butuh aku Simona, jadi Keberadaanku juga penting. Aku lebih pantas mdapat penghargaan itu." otot pun turut angkat bicara.
Simona mengambil sebuah buku pintar, mencari Bab berjudul para pekerja.
"hah, sekarang kau mencari dibuku. Apa yg kau buka itu adalah hasil kerjaku" ujar otak
"tapi untuk mnuangkan hasil pikir juga butuh kekuatan tangan dalam menulis" sambar otot.
"sst...diam!" Simona merapatkan telunjuk pada bibir tipis merahnya.
"menurut buku pintar ini macam2 pekerja otak yaitu: profesor,sutradara,penulis,pelajar,politikus, bla...bla..bla..dll" lanjutnya.
"kau lihatkan itulah kehebatanku" otak berucap bangga.
"tetap saja mereka butuh aku untuk berbuat dan menyampaikan hasil pikirnya"  otot tak mau kalah.
"ini belum selesai. Disini juga ada pekerja otot: atlit, pematung, buruh, pelukis, drumer,driver, bla...bla...bla..." Simona menengahi keduanya.
"betulkan, aku pun dibutuhkan. Semakin dilatih aku akan membuatmu semakin kuat..." kali ini otot yg bangga.
"hah! Apa yg kau bilang? Pematung butuh ide, atlit jg butuh taktik untuk jadi juara, buruh butuh cara untuk cepat menyelesaikn pekerjaan. Jadi Pekerjaan2 itu mbutuhkn 1 sumber, yaitu otak" kali ini otak yang membantah otot.
"pilih aku"
"aku yang harus kau pilih"
"kalian berdua !!! Arrrgghh!!" Simona kini dibuat pusing dan kelelahan.
Simona berjalan keluar, lalu terbaring ditengah jalan. Dia  membiarkn hatinya berbicara bersama angin yg menerpa tubuhnya.
"hai angin, manakah yang harus kuhargai? Otak atau otot?" tanya Simona.
"keduanya" jawab angin.
"kenapa? beritahu aku!"
"karena mereka 1" ucap angin lembut yang menerpanya.
"katakan apa lagi?" Simona belum puas.
"mereka diciptakan bersama untuk saling mendukung. Jadi apa yg mereka hasilkan sama2 berharga. Ketika kau tidur seperti saat ini, sesungguhnya otak n otot tetap bekerja.
Pekerjaan yang menggunakan otak dan pekerjaan yang menggunakan otot, keduanya sama dihargai oleh yang menciptakannya. Tuhanmu yang juga Tuhanku. Jadi kau tidak perlu sibuk mencari yang lebih berhak untuk dihargai"
"terimakasih angin" ucap Simona.
"Sebentar, aku akan buktikan padamu kalau keduanya sangat dibutuhkan." ujar angin lagi
"bagaimana caranya?" Tanya Simona bingung
"tunggu beberapa saat"
"baiklah" Simona menuruti dan tetap berbaring ditengah jalan.
Namun ditengah waktu Simona menunggu pembuktian angin, bunyi klakson mengagetkannya. Simona melihat beberapa meter dari arah kanan tempatnya berbaring, sebuah sedan menuju ke arahnya. Tentu saja dia harus menyingkir dari sana kalau ingin tetap hidup. Simona bangun dan segera berlari ke pinggir jalan.
"hampir saja" ucapnya lega.
"tapi itu tadi... Otakku tau harus bergerak dari jalan dan ototku pun bereaksi atas kiriman sinyal dari otak. Jadi...?"
Simona tiba-tiba langsung menyungkurkan tubuhnya ke tanah, bersujud dan berterimakasih pada Sang Pencipta.


p.s : menuliskan ini sambil membayangkan Simon Cowell versi wanita dengan rambut panjang.


Bekasi, 161111 Dalam Final Reality Show terfiksi didunia
-Desi-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar