Ini Ramadhan, bukan gilang
apalagi andra… Ramadhan. Pak Ustadz bilang ini Ramadhan satu bulan jualan
besar2an. Bukan kolak, pacar cina, bala-bala, tapi jualan iman. Siapa mau
sukses satu bulan, sambut Ramadhan dengan persiapan. Itu pesan.
Me-Ramadhan
Berpaling dari ngawur dengan
mencintai bangun sahur.
Masak sebelum imsak, santap tak
banyak, supaya perut tidak sesak.
Hilangkan pikir kembali kepada
ranjang, karena panggilan subuh sebentar menerjang.
Kurang 13 jam yang nampak kejam,
bagi mereka yang terus menatap melas pada jam.
Ini perang, ini berjuang, ini
cara untuk menang.
Hilangkan fatamorgana yang
membahana:
Itu
komputer bukan daftar menu.
Itu
buku bukan burger keju.
Itu
air keran untuk berwudhu bukan susu.
Itu
Ballpoint bukan permen madu.
Menghindari berpikir sempit dengan
ngabubrit: Ngulek cabe rawit, bisa juga perbanyak wirid.
Ramadhan ya ramadhan…
Grubak-grubuk menunggu bedug.
Menyiapkan santapan bukan
sesajenan.
Ketika Maghrib menggema, hati merasa
lega.
Berbukalah dengan yang manis,
kata pak kumis dengan suara magis.
Jangan lupa sholat Maghrib, kata
Bang Surib sang karib.
Ramadhan spesial
Satu sholat sunnah, yang afdol
berjamaah.
Sholat
tarawih, yang kadang bikin kaki merintih.
Cari
imam yang bikin senang, karena bacaan surat tak panjang.
Pilih
tempat paling depan, biar ceramah tersimpan.
Pilih
tempat paling belakang, biar ngobrol tak terkekang.
Pilih
tempat dekat pintu, biar bisa jajan lalu cepat kembali wudhu.
Berperang batin yang bikin penat:
mau sholat atau mau sesat?
Ramadhan spesial, jadi niat juga
harus special. Agar tidak sial, tak lupa menyertakan amal.
Pernak-pernik Ramadhan
Gerak-gerik satu bulan.
Usak-usik yang mengaku beriman.
Ingat-ingat selalu kata Pak
Ustadz,
“Kolak boleh merajalela di
sepanjang jalan, asal galak merakyat selama ramadhan. Menjaga hati tetap
bening, layaknya buah kolang-kaling. Satu bulan mulia untuk kebaikan di alam
fana . Biarpun hilal berbeda tapi tetap satu jua, Allah Subhanahu wa ta’ala” Insya Allah.
Marhaban Ya Ramadhan.
Bekasi 210712
Desy.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar