Powered By Blogger

Jumat, 20 April 2012

Interpretasi Lagu Princess of China (ColdPlay Ft. Rihanna) : Chasing A Happiness

 *Simak musiknya, liat gambarnya, dan baca ceritanya*


Bekham berdiri menatap tempat itu dari atas tembok, dengan begitu ia dapat melihat desa Cibebek lebih luas lagi. Matanya menyapu seluruh wilayah, sesekali ia menatap ke langit dan termenung. Sejak tiba beberapa jam lalu, ia makin tidak bisa berhenti memikirkan kenangannya pada tempat ini. Keberadaannya di tempat lain, yang jauh dari tempatnya berdiri sekarang, tidak mampu melepaskan kenangan itu.

Kilasan kenangan setahun lalu yang selalu berputar di kepalanya, yang kadang membuatnya hampir putus asa. Hanya kesibukan, satu-satunya hal yang mampu membuatnya “lupa sesaat”. Bekham mengingat lagi bagaimana akhirnya ia bisa kembali kesini. 1 tahun, waktu dimana ia harus menunggu sampai syarat dari ayahnya mampu ia penuhi.

“Jika kau bisa menyelesaikan sekolahmu dalam 12 bulan, ku ijinkan kau kembali kesana”

Bekham senang, karena hanya itu saja syarat yang diajukan ayahnya pada waktu itu. Beliau tidak memintanya harus mendapat nilai tertinggi dan gelar Cum Laude. Walaupun pada akhirnya ia berhasil mendapat nilai tertinggi ketiga dan gelar Cum Laude menjadi hadiah darinya untuk sang ayah, tepat di hari ulang tahunnya.

“Bening?” Bekham tersadar dari lamunannya, ketika matanya melihat sebuah keluarga berjalan beriringan di tempat ia dulu pertama kali bertemu cinta masa lalunya, Bening.***

Bening sebenarnya enggan datang kembali ke tempat ini, seandainya saja dulu almarhumah ibunya tidak dimakamkan disini. Beberapa hari lagi, tepat bulan ke 13 beliau berpulang. Hampir setiap bulan pada waktu yang sama, Bening akan membersihkan makam ibunya. Biasanya ia pergi bersama Beki, saudari kandungnya. Tapi kali ini ia harus pergi sendiri, karena Beki sedang sibuk mempersiapkan festival di kota tempat tinggal mereka.

Setiap datang ke desa ini, Bening akan menginap di rumah Pak Donald, tokoh tersohor di tempat ini. Bening mengenalnya dari kerabat jauhnya, Paman Lang Ling Lung. Hari ini ada yang mengganggu pikirannya, sebab beredar desas-desus kalau ada lelaki yang sering berjalan di sekitar desa untuk mencarinya. Lelaki yang datang jauh dari timur tengah.

“Mungkinkah Bekham?, tapi ah... tidak mungkin” Bening berusaha menyangkal harapan di hatinya.

Lelaki itu tidak akan pernah mencarinya, pikirnya. Bekham terlalu penakut untuk kembali kesini dan menemuinya. Kalaupun mereka dipertemukan, kenangan buruk itu akan selalu menghantui mereka berdua.***

Bekham berjalan menuju alun-alun desa. Matanya nyalang mencari sosok yang pernah ditakutinya dulu, Belang Belentong, preman pengganggu yang sangat ditakuti di Desa Cibebek. Saat berada di timur tengah, Bekham mempelajari bela diri ilmu pedang. Tujuannya menggeluti ilmu itu hanya satu, yaitu untuk menghadapi Makhluk besar itu dan membalaskan dendamnya.

Seandainya saat itu Belang tidak ada, mungkin ia dan Bening sudah menjadi Pangeran dan Putri, seperti impian masa kecil mereka. Perkawinan antara dua jenis unggas berbeda akan dianggap sebagai suatu hal yang istimewa oleh para penduduk, karena hal itu jarang terjadi. 

Biasanya penduduk kesulitan jatuh cinta dengan jenis yang berbeda dengan mereka. Mereka yang berani kawin dengan pasangan yang berbeda akan diagungkan layaknya Pangeran dan Putri. Pondok Indah Cibebek, bangunan  yang berdiri layaknya istana sejak berpuluh-puluh tahun lalu, adalah tempat yang disediakan bagi pasangan berbeda jenis.

Bekham samar-samar dapat mengendus bau amis. Bau ini hanya satu pemiliknya dan iu pasti si Belang. Matanya tertuju pada gentong besar yang terbalik dipojok gang. Tulang-tulang ikan nampak berserakan disana-sini. Bekham mencoba masuk ke dalam gang itu. Semakin ia masuk ke dalam gang, bau amis semakin menyengat. Suara dengkuran terdengar dari dalam gentong.

“Tok!” Bekham melempar batu ke arah gentong. Suara dengkuran berhenti. Gentong itu bergoyang, penghuni didalamnya pasti terbangun akibat lemparan batunya.

“Berisik sekali. Siapa disitu yang sudah mengganggu tidur siang ku?” Bekham tak gentar melihat Belang keluar sambil mengulet. “Rrrr...Mau apa kau, Bebek hitam?” Belang maju secepat kilat menghampiri dan hendak mendaratkan cakarnya ditubuh Bekham. 

‘JLEP!’ Bekham mengeluarkan sebuah pedang dan menusukannya ke tubuh Belang.

“arrrgghh...” Belang mengerang kesakitan, pedang menusuk bagian perutnya. Perlahan-lahan dingin menjalar di sekujur tubuhnya. “a..apa sa-sa-..lahku?” Ucapnya terbata-bata sebelum akhirnya menutupkan mata.

Bekham dengan wajah dingin berdiri menatap tubuh Belang yang tidak bergerak.***

Bening tidak mempedulikan semua penjelasan Bekham. Dia menyesali karena akhirnya mereka dipertemukan.  Bekham berkata padanya kalau hampir 1 bulan ia menunggu dan mencari Bening. Sudah beberapa kawan ia tanyai, bahkan tetua Desa Cibebek yang katanya bisa menerawang telah ia datangi pula untuk mencari tahu keberadaannya. Beruntung ia berjumpa Pak Donald ditengah perjalanan, bebek tersohor itu berkata bahwa setiap mendekati waktu kematian almarhumah ibunya, Bening akan datang dan menginap ke tempatnya.

Bening tidak tahan lagi berada didekat Bekham, ia lalu berjalan meninggalkannya. Ia menuju makam ibunya untuk mengucapkan selamat tinggal yang terakhir kalinya. Namun Bekham tiba-tiba muncul dihadapannya. Rupanya lelaki itu mengikutinya. Bekham memberikan seikat bunga padanya. 

“Bawalah ini ke makam ibumu. Katakan juga padanya bahwa Belang telah ku bunuh. Tidak ada lagi penjahat di desa ini dan aku akan selalu menjagamu. Mulai sekarang kita akan hidup bahagia!”

Bening menerima bunga itu. Sejenak ia terpana akan kata-kata Bekham tadi. Tapi kemudian berusaha menyangkal. Dibuangnya dan diinjak bunga ditangannya.

“Kebahagiaanku sudah diambil... dan kau yang telah mengambilnya. Pergilah, kita hanya akan selalu bertengkar jika bersama, sebab kejadian buruk itu akan selalu muncul kembali.”

Bekham terhenyak melihat Bening membuang dan menginjak bunga pemberiannya.

“apa karena kematian ibumu? Tapi saat itu aku masih terlalu muda dan tidak mampu menghadapi Belang, makanya aku kabur meninggalkanmu sendiri” Bekham berusaha membela diri.

“Kematian ibuku tidak ada hubungannya denganmu. Ketakutanmu, itulah penyebabnya. Kemana kau saat dibutuhkan? Ketika Belang muncul kau kabur. Ketika ibuku meninggal kau malah pergi ke timur tengah. Hal-hal itu yang membuatku sakit hingga harus memutuskan menetap di kota bersama kakak. Jadi pergilah... Bekham.” Bening mengatakan itu dengan berat hati. “dan... terima kasih sudah membunuh Belang” ucapnya untuk terakhir kali.

Bening meninggalkan Bekham yang masih tercengang. 12 bulan impiannya mengejar kebahagiannya kini lenyap. Diambilnya bunga yang tadi diinjak Bening, lalu ia pergi ke atas bukit Desa Cibebek. Setelah peristiwa itu, penduduk tidak pernah lagi melihat keberadaan Bekham di sekitar desa mereka. Sedangkan Bening, ia tidak pernah lagi terlihat datang bersama kakaknya untuk mengunjungi makam ibunya.***


TBC









Bekasi, 200412
Desi
A Toy Story

Tidak ada komentar:

Posting Komentar