*Simak musiknya, liat gambarnya, dan baca ceritanya*
Kilasan kenangan setahun lalu yang
selalu berputar di kepalanya, yang kadang membuatnya hampir putus asa. Hanya
kesibukan, satu-satunya hal yang mampu membuatnya “lupa sesaat”. Bekham
mengingat lagi bagaimana akhirnya ia bisa kembali kesini. 1 tahun, waktu dimana
ia harus menunggu sampai syarat dari ayahnya mampu ia penuhi.
“Jika kau bisa menyelesaikan
sekolahmu dalam 12 bulan, ku ijinkan kau kembali kesana”
Bekham senang, karena hanya itu saja
syarat yang diajukan ayahnya pada waktu itu. Beliau tidak memintanya harus
mendapat nilai tertinggi dan gelar Cum
Laude. Walaupun pada akhirnya ia berhasil mendapat nilai tertinggi ketiga
dan gelar Cum Laude menjadi hadiah
darinya untuk sang ayah, tepat di hari ulang tahunnya.
“Bening?” Bekham tersadar dari
lamunannya, ketika matanya melihat sebuah keluarga berjalan beriringan di
tempat ia dulu pertama kali bertemu cinta masa lalunya, Bening.***
Bening sebenarnya enggan datang
kembali ke tempat ini, seandainya saja dulu almarhumah ibunya tidak dimakamkan
disini. Beberapa hari lagi, tepat bulan ke 13 beliau berpulang. Hampir setiap
bulan pada waktu yang sama, Bening akan membersihkan makam ibunya. Biasanya ia
pergi bersama Beki, saudari kandungnya. Tapi kali ini ia harus pergi sendiri,
karena Beki sedang sibuk mempersiapkan festival di kota tempat tinggal mereka.
Setiap datang ke desa ini, Bening
akan menginap di rumah Pak Donald, tokoh tersohor di tempat ini. Bening
mengenalnya dari kerabat jauhnya, Paman Lang Ling Lung. Hari ini ada yang
mengganggu pikirannya, sebab beredar desas-desus kalau ada lelaki yang
sering berjalan di sekitar desa untuk mencarinya. Lelaki yang datang jauh dari timur tengah.
“Mungkinkah Bekham?, tapi ah...
tidak mungkin” Bening berusaha menyangkal harapan di hatinya.
Lelaki itu tidak akan pernah
mencarinya, pikirnya. Bekham terlalu penakut untuk kembali kesini dan
menemuinya. Kalaupun mereka dipertemukan, kenangan buruk itu akan selalu
menghantui mereka berdua.***
Bekham berjalan menuju alun-alun
desa. Matanya nyalang mencari sosok yang pernah ditakutinya dulu, Belang
Belentong, preman pengganggu yang sangat ditakuti di Desa Cibebek. Saat berada
di timur tengah, Bekham mempelajari bela diri ilmu pedang. Tujuannya menggeluti
ilmu itu hanya satu, yaitu untuk menghadapi Makhluk besar itu dan membalaskan
dendamnya.
Seandainya saat itu Belang tidak
ada, mungkin ia dan Bening sudah menjadi Pangeran dan Putri, seperti impian
masa kecil mereka. Perkawinan antara dua jenis unggas berbeda akan dianggap
sebagai suatu hal yang istimewa oleh para penduduk, karena hal itu jarang terjadi.
Biasanya penduduk kesulitan jatuh cinta dengan jenis yang berbeda dengan
mereka. Mereka yang berani kawin dengan pasangan yang berbeda akan diagungkan
layaknya Pangeran dan Putri. Pondok Indah Cibebek, bangunan yang berdiri layaknya istana sejak
berpuluh-puluh tahun lalu, adalah tempat yang disediakan bagi pasangan berbeda
jenis.
Bekham samar-samar dapat mengendus
bau amis. Bau ini hanya satu pemiliknya dan iu pasti si Belang. Matanya tertuju
pada gentong besar yang terbalik dipojok gang. Tulang-tulang ikan nampak berserakan disana-sini.
Bekham mencoba masuk ke dalam gang itu. Semakin ia masuk ke dalam gang, bau amis semakin menyengat. Suara dengkuran
terdengar dari dalam gentong.
“Tok!” Bekham melempar batu ke arah
gentong. Suara dengkuran berhenti. Gentong itu bergoyang, penghuni didalamnya
pasti terbangun akibat lemparan batunya.
“Berisik sekali. Siapa disitu yang sudah
mengganggu tidur siang ku?” Bekham tak gentar melihat Belang keluar sambil
mengulet. “Rrrr...Mau apa kau, Bebek hitam?” Belang maju secepat kilat
menghampiri dan hendak mendaratkan cakarnya ditubuh Bekham.
‘JLEP!’ Bekham mengeluarkan sebuah
pedang dan menusukannya ke tubuh Belang.
“arrrgghh...” Belang mengerang
kesakitan, pedang menusuk bagian perutnya. Perlahan-lahan dingin menjalar di
sekujur tubuhnya. “a..apa sa-sa-..lahku?” Ucapnya terbata-bata sebelum akhirnya
menutupkan mata.
Bekham dengan wajah dingin berdiri
menatap tubuh Belang yang tidak bergerak.***
Bening tidak mempedulikan semua penjelasan
Bekham. Dia menyesali karena akhirnya mereka dipertemukan. Bekham berkata padanya kalau hampir 1 bulan
ia menunggu dan mencari Bening. Sudah beberapa kawan ia tanyai, bahkan tetua
Desa Cibebek yang katanya bisa menerawang telah ia datangi pula untuk mencari
tahu keberadaannya. Beruntung ia berjumpa Pak Donald ditengah perjalanan, bebek
tersohor itu berkata bahwa setiap mendekati waktu kematian almarhumah ibunya,
Bening akan datang dan menginap ke tempatnya.
Bening tidak tahan lagi berada
didekat Bekham, ia lalu berjalan meninggalkannya. Ia menuju makam ibunya untuk mengucapkan selamat tinggal yang terakhir kalinya. Namun Bekham tiba-tiba
muncul dihadapannya. Rupanya lelaki itu mengikutinya. Bekham memberikan seikat
bunga padanya.
“Bawalah ini ke makam ibumu. Katakan juga padanya bahwa Belang
telah ku bunuh. Tidak ada lagi penjahat di desa ini dan aku akan selalu
menjagamu. Mulai sekarang kita akan hidup bahagia!”
Bening menerima bunga itu. Sejenak ia
terpana akan kata-kata Bekham tadi. Tapi kemudian berusaha menyangkal.
Dibuangnya dan diinjak bunga ditangannya.
“Kebahagiaanku sudah diambil... dan
kau yang telah mengambilnya. Pergilah, kita hanya akan selalu bertengkar jika
bersama, sebab kejadian buruk itu akan selalu muncul kembali.”
Bekham terhenyak melihat Bening
membuang dan menginjak bunga pemberiannya.
“apa karena kematian ibumu? Tapi
saat itu aku masih terlalu muda dan tidak mampu menghadapi Belang, makanya aku
kabur meninggalkanmu sendiri” Bekham berusaha membela diri.
“Kematian ibuku tidak ada
hubungannya denganmu. Ketakutanmu, itulah penyebabnya. Kemana kau saat dibutuhkan?
Ketika Belang muncul kau kabur. Ketika ibuku meninggal kau malah pergi ke timur
tengah. Hal-hal itu yang membuatku sakit hingga harus memutuskan menetap di
kota bersama kakak. Jadi pergilah... Bekham.” Bening mengatakan itu dengan
berat hati. “dan... terima kasih sudah membunuh Belang” ucapnya untuk terakhir
kali.
Bening meninggalkan Bekham yang
masih tercengang. 12 bulan impiannya mengejar kebahagiannya kini lenyap.
Diambilnya bunga yang tadi diinjak Bening, lalu ia pergi ke atas bukit Desa Cibebek. Setelah peristiwa itu, penduduk tidak pernah lagi melihat keberadaan Bekham di sekitar desa mereka. Sedangkan Bening, ia tidak pernah lagi terlihat datang bersama kakaknya untuk mengunjungi makam ibunya.***
TBC
Bekasi, 200412
Desi
Desi
A Toy Story

Tidak ada komentar:
Posting Komentar