Pada kesempatan kali ini
aku ingin bercerita tentang hidup seorag gadis biasa yang memiliki hidup
biasa-biasa saja namun oleh Tuhan secara tiba-tiba diberikan seberkas
keajaiban. Keajaiban itu sebenarnya hal biasa saja. Namun dalam sudut pandangku
ini luar biasa. Bagi gadis dalam ceritaku ini lebih luar biasa lagi.
Nama gadis itu Melani.
Melani adalah gadis
berumur 30 tahun yang murung. Dari pagi hingga tidur dia selalu murung. Melani
tidak punya teman. Dia hidup sendirian dalam flat tua sederhana. Dia tak pernah
tahu siapa ayah dan ibunya. Dia dibesarkan oleh banyak wanita.
Dari umur nol hingga dua
tahun dia dibesarkan oleh nenek penyortir bawang merah di pasar induk. Nenek
itu bernama Rasimah. Rasimah tidak bisa bicara. Dia perempuan bisu. Lalu Nenek
Rahimah memberikan Melani pada seorang mbok tua pengangkut karung berisi
kentang, nenek itu senang sekali merokok klobot dan mengatakan kata kasar. Kata
kasar kesukaanya adalah Anjing Kurap. Setiap ada yang membuat dia kesal dia
selalu berteriak anjing kurap. Itulah kata pertama yang bisa Melani katakan:
Anjing kuyap.
Pada umur Melani yang ke
enam tahun, Mbok Giyem meninggal dunia karena usia tua. Kemudian Melani diurus
oleh seorang janda pendiam bernama Oma Ane. Oma Ane senang memelihara kucing. Oma Ane lah yang memberikan Melani nama
Melani. Dia menyekolahkan Melani hingga SMA. Oma Ane mengajarkan Melani banyak
hal dengan sedikit kata. Namun berkat ajaran Oma Ane, Melani dapat memasak,
menyeterika, menyuci, mengelola uang, mengurus rumah, mengurus Oma Ane dan
membantu Oma Ane mengurus kucing-kucingya.
Namun satu hal yang tak pernah
diajarkan oleh Oma Ane, yaitu cara berdoa.
Oma Ane yang tidak
memilki keturunan maupun sanak saudara, memberikan harta bendanya kepada
Melani. Sebuah kamar di flat tua, tabungan,
dan dua ekor kucing kampung. Oma Ane tidak memberikan pesan terakhir. Dia hanya
memberikan Melani senyuman saat dia menghela nafas untuk terakhir kalinya.
Pada hari jumat tanggaltiga
belas, tiga hari setelah Oma Ane
meninggal, Melani ingin bunuh diri. Terjun ke kali yang berbau busuk itu. Dia
berpikir untuk apa dia hidup lagi. Dia tidak memiliki siapapun di dunia ini.
Siapa yang mau dengan bodohnya menikah dengan gadis jelek yang pemurung? Siapa
yang mau bersimpati pada dirinya yang tak pernah mengatakan kata-kata sapaan
manis?
Kali yang dipandangi
Melani bukanlah kali bersih yang aliran airnya bersumber dari salju, bukan kali
yang aliran airnya dapat langsung kau minum tanpa kena disentri karena
bersumber dari mata air bersih, dan bukan juga air yang dapat membuatmu awet
muda karena bersumber dari air mata puteri duyung.
Kali itu adalah kali
paling kotor di kota tempat Melani tinggal. Kali yang airnya sudah tak terlihat
karena sampah masyarakat urban. Terdiri dari botol-botol plastik mineral,
bungkus makanan instant, sachet shampo lima ratusan, plastik belanjaan yang
katanya bisa hancur sendiri, kotoran manusia, busa detergen, perabotan rusak,
ranting kayu, mayat bayi aborsi, dan segala hal yang aku tak bisa namakan.
Melani naik ke pagar
pembatas kali. Dia memejamkan mata. Berhitung
di dalam hati. Meminta maaf pada Tuhan. Dia tau bunuh diri akan memasukanya ke
dalam neraka. Tapi dia sudah bertekad. Lagipula siapa yang peduli jika dia
masuk neraka?
Melani lompat ke dalam
kali yang penuh sampah, Melani tak sadarkan diri.
Melani berada di sebuah
lorong panjang tak berujung. Hampa suara. Dia yakin dia ada di dalam alam
kematian. Dia memanggil-manggil nama Oma Ane. Namun dia tidak dapat
mendengarkan suaranya sendiri. Lorong panjang yang terang seketika menjadi
gelap. Melani merasakan kehangatan menjalari tubuhnya.
Ajal belum menakdirkan
Melani mati, ia mendarat pada sebuah sofa. Lima belas menit kemudian. Melani
yang pingsan ditemukan oleh seorang pemulung yang sedang mencari botol-botol
bekas. Tubuh Melani yang masih hangat dibawa ke balai pengobatan terdekat.
Setengah jam kemudian
Melani bangun dari tidurnya. Dia tidak mengalami luka serius. Hanya ada segaris
luka di siku tangan kananya. Untung saja dia tidak mendarat di batang kayu
runcing. Melani melihat orang-orang yang mengelilingi tempat tidurnya. Seorang
dokter jaga berkacamata besar, berambut tipis yang membuat catatan di selembar
kertas, seorang laki-laki setengah tua yang menggunakan baju lusuh dan topi
tikar serta seorang perawat berkerudung dangan tatapan mengasihani Melani.
Kalimat pertama yang
keluar dari mulut Melani adalah pertanyaan apakah dia sudah mati dan ada di
neraka.
Sang dokter jaga menjawab
bahwa Melani masih hidup dan ia berkata dengan lembut bahwa, kematian bukanlah
penyelesaian masalah. Ia tahu Melani melakukan usaha bunuh diri dari bekas memerah
ditanganya yang mencengkram keras pagar besi sebelum melompat ke kali.
Pamulung yang menolong
Melani juga mengatakan pada Melani bahwa masih banyak orang yang lebih
menderita dibandingkan Melani, namun mereka mampu bertahan hidup karena optimis
nasib bisa berubah karena perjuangan dan kesungguhan.
Melani memikirkan
kata-kata orang yang tidak dikenalnya itu. Ketika dirinya sudah kuat berdiri
kembali, dia meminta izin kepada dokter jaga untuk pulang. Dokter jaga memperbolehkan Melani pulang,
dengan syarat Melani harus mau ditemani perawat hingga sampai ke rumahnya.
Melani menganggukan kepalanya.
Dalam perjalanan menuju
flat sewaan dengan menggunakan taksi, perawat bertanya kepada Melani, apakah
patah hati menjadi motivasi bunuh dirinya. Melani menggeleng, dia tidak
menjelaskan apapun. Perawat tidak memaksa, karena dia mengerti diam adalah
ribuan kata yang jika dikatakan akan menjadi bahan peledak yang mematikan.
Perawat yang seusia
dengan Melani meminta izin pada Melani untuk memeluk Melani. Dia membuka
tangannya. Melani memeluk perawat iru. Dia menangis di dalam rengkuhan perawat.
Perawat itu hanya berkata bahwa Tuhan memiliki maksud baik karena membiarkan
Melani tetap hidup.
Perawat yang bernama
Purwanti itu mengantar Melani hingga masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Purwanti pamit
pulang, Melani membersihkan badannya. Kemudian menggunakan piyama katun
favoritnya. Letih menghisap energi Melani, dia tertidur di atas tempat tidur
Oma Ana.
Melani tertidur sangat
lelap, Ia terbangun dari tidurnya pada pukul sembilan pagi. Sama seperti
kebiasaan sehari-hari sebelum dia pergi mandi, dia selalu membuka jendela
terlebih dahulu. Untuk meresap sinar matahari. Kemudian memberi makan dua kucing
kampung kesayangan Oma Ane yang kini mejadi keluarganya. Dua mangkok kecil sereal khusus kucing dan semangkuk susu
bayi.
Letak kamar Melani ada di
tingkat paling atas flat. Flat yang sudah tua. Oma Ane menyewa flat ini sudah
hampir empat puluh tahun. Di depan kamar terdapat balkon. Tempat Oma Ane biasa
merajut syal.
Melani pergi ke balkon
untuk memebersihkan peralatan rajut Oma Ane yang selalu diletakan di atas meja.
Di sudut balkon terdapat terdapat kursi goyang. Kursi goyang dari rotan, tempat
Oma Ane berkreasi membuat syal atau juga wahana Oma Ane menikmati pemandangan
kota dikala senja.
Melani duduk di atas
kursi goyang. Menjungkat-jungkitkan kaki kursi dengan gerakan konsisten.
Memandangi langit pagi yang biru. Awan-awan tipis menghiasi langit. Melani
memikirkan kelanjutan hidupnya. Apa yang akan dilakukanya setelah Ia diberi
kesempatan hidup oleh Tuhan. Ia ingin kembali bekerja. Menjadi kasir. Hanya itu
yang dapat ia lakukan.
Tiba-tiba dari arah timur
ada seekor burung bangau dengan buntalan yang ujung-ujung kainnya terikat di paruh.
Burung bangau itu mendarat di atas peti kayu tua. Tanpa rasa takut, Melani
menghampiri burung bangau yang badannya berwarna putih dengan sayap hitam
pekat. Memang beberapa kali, ada burung bangau mendarat di atas flat untuk
membuat sarang. Namun baru kali ini ada burung bangau yang membawa buntalan
kain di paruhnya.
Buntalan kain itu
bergerak-gerak
Burung bangau yang
ukuranya besar itu bergeming tidak bereaksi, kepalanya tetap diam, matanya
mengarah ke mata Melani yang memperhatikannya.
Melani memeberanikan diri
menarik ujung buntalan dari ujung paruh burung bangau yang tetap mengatup. Isi
buntalan itu bersuara.
Tangis bayi, iya tangis
bayi.
Melani buru-buru membuka
ikatan buntalan tersebut dia atas meja. Benar ternyata seorang bayi. Bayi itu
berjenis kelamin laki-laki. Umur bayi itu nampaknya sudah lebih dari dua bulan.
Saat Melani menyunggingkan senyuman. Tangisan bayi pun berhenti.
Burung bangau si pembawa
bayi terbang entah ke mana, ketika bayi sudah aman ada di gendongan Melani.
Wajah bayi itu bulat,
matanya sipit, pipinya bersemu merah, rambutnya ikal hitam, hidungnya mancung
kecil, bibirnya merah mungil, dan
kupingnya seperti cangkang kerang.
Saat si bayi itu membelalakan
mata, Melani terpaku pada pandangan tak berdosa si bayi. Dalam pandangan
Melani, bayi itu adalah hal paling indah dalam hidupnya. Melani langsung jatuh
cinta. Melani mencium kening si bayi, mencium pipi si bayi, mencium telapak
tangan si bayi, membelai kaki si bayi yang mungil dengan pipinya. Melani
merasakan ada ikatan antara dia dengan si bayi.
Sadar bahwa si bayi tidak
menggunakan pakaian, Melani segera membungkus si bayi dengan selimut wol yang
masih ada di tali jemuran.
Tanpa pikir panjang dan
menaruh curiga, Melani membawa bayi laki-laki itu masuk ke dalam kamar. Lalu ia
memberikan si bayi susu bayi yang biasa diberikan kepada kucing. Kucing-kucing
mengeong, protes susunya diberikan pada si bayi.
Melani membersihkan si
bayi dengan kain basah hangat. Melani memanggil dirinya dengan sebutan Ibu.
Melani menganaggap anak itu adalah anakanya. Ada rasa tenang yang muncul dari
dalam hati Melani, saat si bayi tertawa karena Melani menggodanya dengan
mengeuarkan suara gumaman. Ada perasaan bersalah ketika si bayi menangisi
Melani, saat Melani meninggalkanya sebentar untuk sekedar menutup pintu. Melani
menggendong bayi itu lalu mengajaknya berdansa. Mengajaknya bicara.
Hari sudah malam lagi,
Melani menidurkan si bayi di tempat tidur Oma Ane. Ia menyanyikan lagu Nina Bobo
untuk si bayi. Baru kali ini Melani bernyanyi dengan suara keras serta
disaksikan oleh manusia lainnya. Suaranya merdu juga. Dentingan wind chimes yang terkena hembusan angin menambah
suasana syahdu. Suara Melani yang merdu bersama windchimes membuat si bayi terlelap dalam senyuman yang
mendamaikan.
Melani mencubit
tangannya, agak sakit, dia hampir percaya ini mimpi
Ia cubit lagi tangannya
keras-keras masih sakit, malah tambah sakit
Dia simpulkan ini bukan
mimpi
Burung bangau yang menghadiahkannya
seorang bayi lelaki, memang tadi datang ke atap flat lantai teratas. Ia Burung
itu tadi ada di atas peti tua.
Bayi yang tadi tersenyum
padanya memang sungguh anak manusia.
Bahkan aroma tubuh si
bayi yang harum itu masih menempel di tangannya.
Melani tertidur dengan
posisi jari masih mencubit lengannya
Cahaya matahari menyeruak
masuk lewat celah kaso jendela buram
Melani bangun dari tidur
nyenyak pertamanya semanjak Oma Ane meninggal
Yang dia lakukan pertama
adalah mengecek keberadaan si bayi
Bayi itu tidak ada di
kamar Oma Ane!
Hilang, kainnya juga
menghilang
Si Bayi sudah berubah
menjadi anak berusia satu tahunan. Anak itu sedang jalan berjingkat-jingkat.
Melani kembali mencubit tanganyya, sakit. Ini
sungguhan. Kesungguhan yang lebih aneh daripada mimpi. Melani mengangkay bayi
itu, kemudian menciuminya.
Melani pergi ke atas atap
flat. Membawa si bayi yang mengeluarkan kata-kata aneh. Untuk menatap pagi
serah
Melani menemukan secarik
surat, di tempat burung banagu yang membawa bayi dalam buntalan kain di ujung
paruhnya, mendarat
Begini isinya:
Melani, ini Oma Ane
Sepanjang hidup Oma, Oma
tidak pernah mengajarkan Mel, menjadi seorang Ibu. Oma hanya mengajarkan Mel
menjadi wanita tangguh. Namun Oma lupa bahwa suatu hari, Mel akan menjadi
seorang Ibu.
Mel, sebelum aku
hembuskan nafas terakhir, aku membuat satu permintaan mustahil sebagai
tantangan kepada Tuhan. Karena aku memang tak pernah merasakan kehadiran Tuhan
hingga aku merasakan ajalku yang kian dekat. Penyakit gulaku membuat badanku
semakin payah.
Mel, Aku katakan dalam
hatiku yang paling dalam, hingga tak ada yang mendengarnya lewat perbuatanku.
Aku takut gerak-gerik terakhirku sebelum meninggal, menunjukan bahwa aku percaya
pada Tuhan.
Mel, aku ingin
membuktikan cerita orang-orang tentang Mbok Rasimah yang mendadak gagu karena
didatangi burung bangau yang membawa buntalan berisi bayi perempuan
berpuluh-puluh tahun lalu. Bayi yang pertumbuhannya sangat cepat.
Mel, jika cerita itu
benar tolong teriak yang kuat, katakan itu benar, sampai aku mendengarnya dari
sini Mel.
Regards
Depok, 20 April 2012
-Mega-
-Mega-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar