Powered By Blogger

Jumat, 20 April 2012

Bayi-Bayi Bangau


Pada kesempatan kali ini aku ingin bercerita tentang hidup seorag gadis biasa yang memiliki hidup biasa-biasa saja namun oleh Tuhan secara tiba-tiba diberikan seberkas keajaiban. Keajaiban itu sebenarnya hal biasa saja. Namun dalam sudut pandangku ini luar biasa. Bagi  gadis  dalam ceritaku ini lebih luar biasa lagi. Nama gadis itu Melani.

Melani adalah gadis berumur 30 tahun yang murung. Dari pagi hingga tidur dia selalu murung. Melani tidak punya teman. Dia hidup sendirian dalam flat tua sederhana. Dia tak pernah tahu siapa ayah dan ibunya. Dia dibesarkan oleh banyak wanita. 

Dari umur nol hingga dua tahun dia dibesarkan oleh nenek penyortir bawang merah di pasar induk. Nenek itu bernama Rasimah. Rasimah tidak bisa bicara. Dia perempuan bisu. Lalu Nenek Rahimah memberikan Melani pada seorang mbok tua pengangkut karung berisi kentang, nenek itu senang sekali merokok klobot dan mengatakan kata kasar. Kata kasar kesukaanya adalah Anjing Kurap. Setiap ada yang membuat dia kesal dia selalu berteriak anjing kurap. Itulah kata pertama yang bisa Melani katakan: Anjing kuyap. 

Pada umur Melani yang ke enam tahun, Mbok Giyem meninggal dunia karena usia tua. Kemudian Melani diurus oleh seorang janda pendiam bernama Oma Ane. Oma Ane senang memelihara kucing.  Oma Ane lah yang memberikan Melani nama Melani. Dia menyekolahkan Melani hingga SMA. Oma Ane mengajarkan Melani banyak hal dengan sedikit kata. Namun berkat ajaran Oma Ane, Melani dapat memasak, menyeterika, menyuci, mengelola uang, mengurus rumah, mengurus Oma Ane dan membantu Oma Ane mengurus kucing-kucingya. 

Namun satu hal yang tak pernah diajarkan oleh Oma Ane, yaitu cara berdoa.

Oma Ane yang tidak memilki keturunan maupun sanak saudara, memberikan harta bendanya kepada Melani. Sebuah kamar di flat tua,  tabungan, dan dua ekor kucing kampung. Oma Ane tidak memberikan pesan terakhir. Dia hanya memberikan Melani senyuman saat dia menghela nafas untuk terakhir kalinya.
Pada hari jumat tanggaltiga belas,  tiga hari setelah Oma Ane meninggal, Melani ingin bunuh diri. Terjun ke kali yang berbau busuk itu. Dia berpikir untuk apa dia hidup lagi. Dia tidak memiliki siapapun di dunia ini. Siapa yang mau dengan bodohnya menikah dengan gadis jelek yang pemurung? Siapa yang mau bersimpati pada dirinya yang tak pernah mengatakan kata-kata sapaan manis?

Kali yang dipandangi Melani bukanlah kali bersih yang aliran airnya bersumber dari salju, bukan kali yang aliran airnya dapat langsung kau minum tanpa kena disentri karena bersumber dari mata air bersih, dan bukan juga air yang dapat membuatmu awet muda karena bersumber dari air mata puteri duyung.

Kali itu adalah kali paling kotor di kota tempat Melani tinggal. Kali yang airnya sudah tak terlihat karena sampah masyarakat urban. Terdiri dari botol-botol plastik mineral, bungkus makanan instant, sachet shampo lima ratusan, plastik belanjaan yang katanya bisa hancur sendiri, kotoran manusia, busa detergen, perabotan rusak, ranting kayu, mayat bayi aborsi, dan segala hal yang aku tak bisa namakan.

Melani naik ke pagar pembatas kali. Dia memejamkan mata.  Berhitung di dalam hati. Meminta maaf pada Tuhan. Dia tau bunuh diri akan memasukanya ke dalam neraka. Tapi dia sudah bertekad. Lagipula siapa yang peduli jika dia masuk neraka?

Melani lompat ke dalam kali yang penuh sampah, Melani tak sadarkan diri.

Melani berada di sebuah lorong panjang tak berujung. Hampa suara. Dia yakin dia ada di dalam alam kematian. Dia memanggil-manggil nama Oma Ane. Namun dia tidak dapat mendengarkan suaranya sendiri. Lorong panjang yang terang seketika menjadi gelap. Melani merasakan kehangatan menjalari tubuhnya.
Ajal belum menakdirkan Melani mati, ia mendarat pada sebuah sofa. Lima belas menit kemudian. Melani yang pingsan ditemukan oleh seorang pemulung yang sedang mencari botol-botol bekas. Tubuh Melani yang masih hangat dibawa ke balai pengobatan terdekat. 

Setengah jam kemudian Melani bangun dari tidurnya. Dia tidak mengalami luka serius. Hanya ada segaris luka di siku tangan kananya. Untung saja dia tidak mendarat di batang kayu runcing. Melani melihat orang-orang yang mengelilingi tempat tidurnya. Seorang dokter jaga berkacamata besar, berambut tipis yang membuat catatan di selembar kertas, seorang laki-laki setengah tua yang menggunakan baju lusuh dan topi tikar serta seorang perawat berkerudung dangan tatapan mengasihani Melani.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Melani adalah pertanyaan apakah dia sudah mati dan ada di neraka.
Sang dokter jaga menjawab bahwa Melani masih hidup dan ia berkata dengan lembut bahwa, kematian bukanlah penyelesaian masalah. Ia tahu Melani melakukan usaha bunuh diri dari bekas memerah ditanganya yang mencengkram keras pagar besi sebelum melompat ke kali.

Pamulung yang menolong Melani juga mengatakan pada Melani bahwa masih banyak orang yang lebih menderita dibandingkan Melani, namun mereka mampu bertahan hidup karena optimis nasib bisa berubah karena perjuangan dan kesungguhan.

Melani memikirkan kata-kata orang yang tidak dikenalnya itu. Ketika dirinya sudah kuat berdiri kembali, dia meminta izin kepada dokter jaga untuk pulang.  Dokter jaga memperbolehkan Melani pulang, dengan syarat Melani harus mau ditemani perawat hingga sampai ke rumahnya. Melani menganggukan kepalanya.
Dalam perjalanan menuju flat sewaan dengan menggunakan taksi, perawat bertanya kepada Melani, apakah patah hati menjadi motivasi bunuh dirinya. Melani menggeleng, dia tidak menjelaskan apapun. Perawat tidak memaksa, karena dia mengerti diam adalah ribuan kata yang jika dikatakan akan menjadi bahan peledak yang mematikan.

Perawat yang seusia dengan Melani meminta izin pada Melani untuk memeluk Melani. Dia membuka tangannya. Melani memeluk perawat iru. Dia menangis di dalam rengkuhan perawat. Perawat itu hanya berkata bahwa Tuhan memiliki maksud baik karena membiarkan Melani tetap hidup.

Perawat yang bernama Purwanti itu mengantar Melani hingga masuk ke dalam kamarnya.  
Setelah Purwanti pamit pulang, Melani membersihkan badannya. Kemudian menggunakan piyama katun favoritnya. Letih menghisap energi Melani, dia tertidur di atas tempat tidur Oma Ana.

Melani tertidur sangat lelap, Ia terbangun dari tidurnya pada pukul sembilan pagi. Sama seperti kebiasaan sehari-hari sebelum dia pergi mandi, dia selalu membuka jendela terlebih dahulu. Untuk meresap sinar matahari. Kemudian memberi makan dua kucing kampung kesayangan Oma Ane yang kini mejadi keluarganya. Dua mangkok  kecil sereal khusus kucing dan semangkuk susu bayi.

Letak kamar Melani ada di tingkat paling atas flat. Flat yang sudah tua. Oma Ane menyewa flat ini sudah hampir empat puluh tahun. Di depan kamar terdapat balkon. Tempat Oma Ane biasa merajut syal.  
Melani pergi ke balkon untuk memebersihkan peralatan rajut Oma Ane yang selalu diletakan di atas meja. Di sudut balkon terdapat terdapat kursi goyang. Kursi goyang dari rotan, tempat Oma Ane berkreasi membuat syal atau juga wahana Oma Ane menikmati pemandangan kota dikala senja.

Melani duduk di atas kursi goyang. Menjungkat-jungkitkan kaki kursi dengan gerakan konsisten. Memandangi langit pagi yang biru. Awan-awan tipis menghiasi langit. Melani memikirkan kelanjutan hidupnya. Apa yang akan dilakukanya setelah Ia diberi kesempatan hidup oleh Tuhan. Ia ingin kembali bekerja. Menjadi kasir. Hanya itu yang dapat ia lakukan.

Tiba-tiba dari arah timur ada seekor burung bangau dengan buntalan yang ujung-ujung kainnya terikat di paruh. Burung bangau itu mendarat di atas peti kayu tua. Tanpa rasa takut, Melani menghampiri burung bangau yang badannya berwarna putih dengan sayap hitam pekat. Memang beberapa kali, ada burung bangau mendarat di atas flat untuk membuat sarang. Namun baru kali ini ada burung bangau yang membawa buntalan kain di paruhnya.

Buntalan kain itu bergerak-gerak

Burung bangau yang ukuranya besar itu bergeming tidak bereaksi, kepalanya tetap diam, matanya mengarah ke mata Melani yang memperhatikannya. 

Melani memeberanikan diri menarik ujung buntalan dari ujung paruh burung bangau yang tetap mengatup. Isi buntalan itu bersuara.

Tangis bayi, iya tangis bayi. 

Melani buru-buru membuka ikatan buntalan tersebut dia atas meja. Benar ternyata seorang bayi. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki. Umur bayi itu nampaknya sudah lebih dari dua bulan. Saat Melani menyunggingkan senyuman. Tangisan bayi pun berhenti. 

Burung bangau si pembawa bayi terbang entah ke mana, ketika bayi sudah aman ada di gendongan Melani.
Wajah bayi itu bulat, matanya sipit, pipinya bersemu merah, rambutnya ikal hitam, hidungnya mancung kecil,  bibirnya merah mungil, dan kupingnya seperti cangkang kerang. 

Saat si bayi itu membelalakan mata, Melani terpaku pada pandangan tak berdosa si bayi. Dalam pandangan Melani, bayi itu adalah hal paling indah dalam hidupnya. Melani langsung jatuh cinta. Melani mencium kening si bayi, mencium pipi si bayi, mencium telapak tangan si bayi, membelai kaki si bayi yang mungil dengan pipinya. Melani merasakan ada ikatan antara dia dengan si bayi. 

Sadar bahwa si bayi tidak menggunakan pakaian, Melani segera membungkus si bayi dengan selimut wol yang masih ada di tali jemuran.

Tanpa pikir panjang dan menaruh curiga, Melani membawa bayi laki-laki itu masuk ke dalam kamar. Lalu ia memberikan si bayi susu bayi yang biasa diberikan kepada kucing. Kucing-kucing mengeong, protes susunya diberikan pada si bayi.  

Melani membersihkan si bayi dengan kain basah hangat. Melani memanggil dirinya dengan sebutan Ibu. Melani menganaggap anak itu adalah anakanya. Ada rasa tenang yang muncul dari dalam hati Melani, saat si bayi tertawa karena Melani menggodanya dengan mengeuarkan suara gumaman. Ada perasaan bersalah ketika si bayi menangisi Melani, saat Melani meninggalkanya sebentar untuk sekedar menutup pintu. Melani menggendong bayi itu lalu mengajaknya berdansa. Mengajaknya bicara.

Hari sudah malam lagi, Melani menidurkan si bayi di tempat tidur Oma Ane. Ia menyanyikan lagu Nina Bobo untuk si bayi. Baru kali ini Melani bernyanyi dengan suara keras serta disaksikan oleh manusia lainnya. Suaranya merdu juga. Dentingan wind chimes yang terkena hembusan angin menambah suasana syahdu. Suara Melani yang merdu bersama windchimes membuat si bayi terlelap dalam senyuman yang mendamaikan. 

Melani mencubit tangannya, agak sakit, dia hampir percaya ini mimpi

Ia cubit lagi tangannya keras-keras masih sakit, malah tambah sakit

Dia simpulkan ini bukan mimpi

Burung bangau yang menghadiahkannya seorang bayi lelaki, memang tadi datang ke atap flat lantai teratas. Ia Burung itu tadi ada di atas peti tua.
Bayi yang tadi tersenyum padanya memang sungguh anak manusia.
Bahkan aroma tubuh si bayi yang harum itu masih menempel di tangannya.
Melani tertidur dengan posisi jari masih mencubit lengannya

Cahaya matahari menyeruak masuk lewat celah kaso jendela buram
Melani bangun dari tidur nyenyak pertamanya semanjak Oma Ane meninggal
Yang dia lakukan pertama adalah mengecek keberadaan si bayi
Bayi itu tidak ada di kamar Oma Ane!

Hilang, kainnya juga menghilang


Si Bayi sudah berubah menjadi anak berusia satu tahunan. Anak itu sedang jalan berjingkat-jingkat.
 Melani kembali mencubit tanganyya, sakit. Ini sungguhan. Kesungguhan yang lebih aneh daripada mimpi. Melani mengangkay bayi itu, kemudian menciuminya.

Melani pergi ke atas atap flat. Membawa si bayi yang mengeluarkan kata-kata aneh. Untuk menatap pagi serah

Melani menemukan secarik surat, di tempat burung banagu yang membawa bayi dalam buntalan kain di ujung paruhnya, mendarat


Begini isinya:


Melani, ini Oma Ane
Sepanjang hidup Oma, Oma tidak pernah mengajarkan Mel, menjadi seorang Ibu. Oma hanya mengajarkan Mel menjadi wanita tangguh. Namun Oma lupa bahwa suatu hari, Mel akan menjadi seorang Ibu. 

Mel, sebelum aku hembuskan nafas terakhir, aku membuat satu permintaan mustahil sebagai tantangan kepada Tuhan. Karena aku memang tak pernah merasakan kehadiran Tuhan hingga aku merasakan ajalku yang kian dekat. Penyakit gulaku membuat badanku semakin payah. 

Mel, Aku katakan dalam hatiku yang paling dalam, hingga tak ada yang mendengarnya lewat perbuatanku. Aku takut gerak-gerik terakhirku sebelum meninggal, menunjukan bahwa aku percaya pada Tuhan.

Mel, aku ingin membuktikan cerita orang-orang tentang Mbok Rasimah yang mendadak gagu karena didatangi burung bangau yang membawa buntalan berisi bayi perempuan berpuluh-puluh tahun lalu. Bayi yang pertumbuhannya sangat cepat.
Mel, jika cerita itu benar tolong teriak yang kuat, katakan itu benar, sampai aku mendengarnya dari sini Mel.

Regards


Depok, 20 April 2012
-Mega-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar