Depok, 10 Februari 2012
Dear Cinta
Hi Cinta apakabar? Apakah baik-baik saja? Moga selalu baik karena cinta harus tetap baik. Ih aku kog jadi kayak ngerjain tugas Bahasa Indonesia gini ya? Hehehehehehehehe
mainkan lagunya biar romantis
Cinta, apapun nama lainmu kau terus memberikan keajaiban setiap harinya, kau yang ditugaskan Tuhan sebagai pengisi hati manusia, selalu membuat manusia percaya dengan harapannya.
Sabagai bentuk eros, kau tidak hanya mampu menciptakan lagu-lagu untuk Sheila On 7, eh kog jadi ngawur? Maaf, mari kita berbunga-bunga lagi. Dalam bentuk eros kau mampu membuat manusia menjadi mahluk gila, pemberani, buta, dan mabuk tanpa anggur, itu pengalamanku lo Cin, kog nama panggilanmu jadi kayak sapaan ala banci ya? Ah banci-banci itu aja yang nyingkat-nyingkat namau kamu dengan kata cin sehingga kau jadi terkesan gemulai di kuping-kuping manusia metropolis.
Cinta yang eros, kamu dapat merubah rambo jadi romeo. Mbak-mbak macho jadi mbak-mbak yang romantika diamo. Dengan perasaan cinta eros itu banyak karya seni dihasilkan. Lagu-lagu yang membuatku meradang terdengar sampai ke gendang telinga, menguras dompetku dan juga menguras air mataku. Tau kah kamu cin? gaungmu dalam hatiku membuatmu sedih dan merana, Ahiks. Karena fungsimu berubah yang harusnya menjadi pembahagia, menjadi pemerih. Maaf kalo aku menyalahkanmu atas suasana hatiku.
Tapi sebelumnya kamu telah menjadi penyemangat hari-hariku. Karena perasaan yang kau rasukan ke dalam hatiku terhadap seseorang, aku menjadi puitis, melankolis, menangis-nangis, mengais-ngais dan meringis. Tidak hanya itu saja. Aku juga jadi agak centil, memanggil nama seseorang dengan mesra. Mencium sesorang tanpa khawatir terkena pneumonia. Berkorban tanpa takut tak dibalas. Membelikan hadiah yang lumayan menguras kantong. Membuatku rela menempuh jarak jauh untuk menemuinya. Bahkan rela mengorbankan hati meski tau aku ini hanya barisan dari pilihanya. Namun dari pengalaman-pengalaman itu aku menjadi manusia yang lembut namun kuat. Aku tau bagimana rasanya menjadi lemah untuk menguatkan, dan dikuatkan saat aku lemah. Halah, aku kog jadi philospohis gini ya?
Cinta yang dapat menjadi philia, aku dapat merasakan cinta yang disebut sebagai kasih sayang. Kasih sayang untuk orangtua, sahabat dan kawan. Kasih sayang ini tak dapat aku ungkapkan dengan bahasa mendayu-dayu. Namun dengan tindakan biasa saja. Aku jarang sekali mengucapkan kalimat Aku sayang Padamu. Karena kalimat itu terdengar menjijaykan. Pernah sekali bilang begitu sama Ibu, dibilang gombal. Terus bilang ke teman, dia bilang ih Ga norak lo. Maka dari itu kasih sayang untuk teman dan keluarga lebih aku ungkapkan kedalam bentuk perhatian cuek-cuek aja. Malah lebih sering berantem dan ceng-cengan daripada berkata-kata manis. Bagiku Cin, bentukmu dalam philia adalah cinta yang disebut sebagai cinta tanpa syarat. Cinta yang tak mengharapkan timbal balik. Lebih abadi dari cinta eros yang romantis.
Pengorbanan dalam cinta Philia yang tak terbalas tidak meninggalkan luka yang dalam seperti dalam cinta eros. Ini cinta yang tak ada putusnya, berantem kemudian baikan lagi sesudahnya. Cara baikannya juga suka lucu. Kayak pura-pura gak ada apa-apa, padahal segala umpatan, lemparan bantal dan tangisan sudah dikeluarkan. Mungkin karena udah saling membutuhkan kali ya Cin? Dalam cinta bentuk ini kita gak perlu nutup-nutupin kejelekan muka kita saat abis baru bangun tidur. Mereka yang mencintai kita sungguh menerima keadaan kita apa adanya. Bahasa peremannya udah tau busuk-busuknya. Dengan cinta philiamu ini aku jadi dapat mengerti apa itu menerima dan memberi. Cinta, andai kamu bisa bicara seperti suara misterius yang ada di film-film komedi, tolong sampaikan pada kerabat dan handai taulan, bahwa aku sayang sayang sayang sayang banget sama mereka.
Cin, sekarang ini aku lagi belajar untuk merasakan bentukmu yang agape. Bentuk cinta tertinggi, yang terlepas dari keinginan raga. Namun lebih kepada keinginan ruh untuk merasakan Tuhan. Cinta ini sungguh sulit karena kadang dibenturkan oleh logika yang terbiasa merasakan hal-hal nyata lewat penginderaan. Padahal cin, Tuhan itu tak boleh diinderakan. Caraku mencintai Tuhan masih seperti pedagang yang mencari perhatian kepada langganan. Dalam doaku hanya ada daftar permintaan, hal itu yang membuatku pernah jauh dari Tuhan, karena aku maunya apa yang aku inginkan segera dikabulkan. Tanpa mau menjalani prosesnya. Padahal cin, aku ini tergolong manusia malas yang pantang berusaha keras.
Melalui bentuk agapemu aku selalu diingatkan, bahwa diluar sana ada prima causa. Asal muasal dari segala sesuatu. Meskipun aku menjauh dari Tuhan, pasti ada saja hal yang membuatku dekat. Ada saja yang membuat hati ini rindu sentuhan jangkauan yang Maha-Nya. Hatiku selalu sakit jika aku melakukan hal-hal yang menjadi larangan-Nya. Pernah pada suatu waktu, aku mengingkari rasa ini, tetap saja melanggar, mengendapkan rasa bersalah dari hari ke hari. Namun melalui pertolongan-pertolongan yang kecil. Aku jadi ingat, aku tak layak menjadi pembangkang. Karena aku ini hanyalah debu dalam semesta-Nya yang tak terhingga.
Cinta, untuk mencurahkan rasa hatiku ini dan memberikan kesaksian tentang dirimu cukup membuatku berpikir berhari-hari, tidak seperti menulis surat cinta pada kekasih yang hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja.
Setidaknya ini dapat menjadi sebuah bukti bahwa aku mencintaimu dengan dalam, Cinta
Depok, diselesaikan pada tanggal 16 Februari 2012
-Mega-
-Mega-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar