Suatu ketika di wall facebook gue muncul wall post dari si Desy, isinya adalah ancaman untuk memilih mana yang patut diberi penghargaan pekerja otot apa otak.Lalu gue berpikir mana ya yang gue pilih....
Setelah melewati proses berpikir yang ngejelimet dan melibatkan kerja beberapa saraf pada otak dan tangan akhirnya gue milih bahwa yang patut diberi reward adalah pekerja otak, yang dalam hal ini adalah konseptor. Karena mengkosepkan sesuatu tidaklah mudah. Beda dengan pekerja otot yang tinggal melaksanakan eksekusi.
Gue gak mengecilkan peran dan jasa pekerja otot ya, tapi dalam faktanya pekerja otot meskipun membuang energi super banyak, tidak mengalami yang namanya konflik bathin hebat yang dirasakan oleh pekerja otak.
Pekerja otak dalam mendesain konsep yang akan dipraktekan pekerja otot ,mesti mengalami proses dilema. ia akan mempertimbangkan: Akankah konsep ini memiliki konsekuensi sosial atau apakah konsep ini pantas diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah konsep ini membutuhkan biaya yang banyak. Bagaimana supaya ketika dipraktekan, konsep tersebut tidak membuang energi banyak-banyak. Dan yang paling penting apakah konsep ini akan bebas nilai dan tidak bertentangan dengan hati nurani???
Dibandingkan dengan pekerja otak, mereka hanya menjadi eksekutor pekerja otak. Misal pekerja bangunan tinggal mengikuti rancanga arsitek ataupun perancang bangun. Petani tinggal mengikuti konsep dari pemilik, insinyur pertanian ataupun penyuluh. Kuli angkut tinggal mengangkut barang tanpa harus merancang strategi bagaimana barang-barang ditumpuk ke kargo, karena di kargo udah ada mandor (konseptor susunan barang) yang menentukan barang-barang itu ditumpuk dengan formasi tertentu supaya tidak membahayakan nyawa. Singkat kata pekerja otot hanya menguras energi jasmani. Ya ... meski dia juga menggunakan otaknya untuk menjalani eksekusi konsep. Karena yang menggerakan otot adalah otak.Membuang energi jasmani hanya menghilangkan bobot tubuh, beda dengan energi otak yang mampu membuat kulit kepala mengalami erosi rambut dan si pelaku menjadi rada ebleng. Misal melakukan sesuatu yang aneh. Jalan kayang, lari mundur atau makanin batu bata saat memikirkan suatu ide.
Penyakit yang diakibatkan oleh lelah otak, lebih mengerikan karena mempengaruhi kerja otot. Penyakit otot tidak mempengaruhi kerja otak. Misal kalo keseleo pinggang, dengan pengendalian otak tepat kita masih bisa berpikir jernih.
Kalo boleh memberikan closing yang rada menggugah :
Pekerja otak adalah manusia-manusia yang mengubah dunia. Pekerja otot adalah manusia-manusia yang menggerakan dunia.
Jadi memang pantaslah jika para pekerja otak atau koseptor berhak memenangkan berbagai penghargaan mulai dari Nobel, Pulitzer, penghargaan kalpataru, hingga piagam dari Pak RT.
Namun yang paling hebat, The greatest brain worker is TUHAN Sang Maha konseptor, tanpa konsep matangnya sudah sedari dulu alam semesta tak akan bertahan lama.
Depok
10 November 2011
Megol yang bukan pekerja otak maupun otot
Ps: Sumpah ni tugas dari Bu Desy berat banget lebih berat dari dongeng

sexy brain :P
BalasHapus