Powered By Blogger

Jumat, 09 September 2011

Keluarga Semut : Kisah Dibalik Remah

Seekor Bapak semut yang sudah tua berdiri diatas batu dihadapan empat orang anak lelakinya. Selain bapak dari empat semut jantan, ia dikenal sebagai Komandan Pasukan Semut (KoPaSut) yang terkenal dikoloninya. Bapak semut berbicara serius kepada anak-anaknya dan menatap mereka satu per satu.

"Anak-anakku, sebentar lagi aku akan mati. Namun sebelum aku mati aku ingin menunjuk salahsatu dari kalian yang pantas untuk dihadapkan kepada ratu sebagai komandan pasukan semut. Keluarga kita sudah dikenal sebagai keluarga komandan pasukan semut dari mulai kakeku sampai diriku sekarang. Namun aku tidak ingin salah menunjuk anak yang pantas menggantikanku kelak, makanya aku kumpulkan kalian disini untuk mendengarkan ini"
Keempat anak semut menyimak kata-kata Bapak semut tanpa menyela sedikit pun, meski dalam hati mereka khawatir akan kata mati yang disinggung ayahnya. Mereka menunggu sampai ayah mereka diam untuk memberikan kesempatan berbicara.
"lalu siapa yang ayah pilih diantara kami?" tanya anaknya yang pertama setelah Bapak semut terdiam lama.
"aku tidak akan sembarang menunjuk,tapi aku akan memberikan petunjuk kepada kalian"
"petunjuk seperti apa ayah?' tanya anak keduanya
"petunjuk untuk melakukan sebuah tugas yang harus kalian laksanakan"
"Tugas? seperti sebuah pertandingan-kah, ayah? sela anak yang ketiga
"sst.... ayah belum selesai bicara!" anak keempat mengingatkan kakaknya
"maafkan aku ayah" ujar anak ketiga merasa tidak enak hati.
Bapak semut terbatuk sesaat.
"ya sudahlah. Sekarang dengarkan baik-baik. Ini adalah tugas,bukan pertandingan. Tugas ini untuk mencari yang terbaik diantara kalian, anak-anakku yang paling baik. Siapapun yang berhasil membawa kisah indah dalam tugasnya akan aku pilih dia sebagai anak yang akan dihadapkan pada Ratu sebagai komandan pasukan semut."
Bapak semut terbatuk lagi, hampir saja ia terjatuh dari atas batu, namun dengan sigap keempat anaknya membantunya agar tidak jatuh.
"Tugas akan kalian lakukan besok pagi2 sekali, pergilah mcari remah makanan terbaik yg bisa kalian dapatkan. Dan kembalilah sore harinya, kemudian ceritakan pdku tentang remahan yg kalian bawa nanti. Hanya satu aturannya, remah yg kalian bawa nanti harus berasal dari padi." jelas bapak semut.
"kenapa harus dari padi ayah?" tanya keempat anak semut kompak.
Bapak semut tidak menjawabnya, ia justru langsung masuk ke lubang tanah beristirahat. Keempat anaknya saling memandang bingung dan bertanya satu sama lain.
"Sudahlah. Kita turuti saja perintah ayah. Kalian ingat nasihat ayah  semenjak kita kecil: kurangi berdebat dan banyaklah berbuat." ujar anak semut yg tertua.
"kakak benar! Kita istirahat sekarang,karena besok kita harus melaksanakan tugas dari ayah" anak semut yg ketiga membenarkan kata2 kakak ptamanya.
Keempat anak semut itu pun masuk ke dalam lubang dan beristirahat. Saat pagi tiba mereka langsung keluar dari lubang dan masing2 pergi ke arah yg berbeda. Sementara itu bapak semut pergi menemui ratu semut dan myampaikan maksudnya untuk mundur sebagai komandan pasukan semut. Dia jg mengatakan salahsatu dr empat anaknya akan menggantikan tugasnya mulai besok.
Sekembalinya ke dalam lubang ia berdiam diri mengatur napasnya yg tersengal2 menahan sakit ditubuhnya. Ketika sore tiba dan satu persatu anak2nya kembali. Bapak semut berusaha tersenyum menyambut mereka. Setiap anak yang tiba disuguhinya sari gula simpanannya.
"terimakasih ayah. ini lezat sekali!" ucap anak2nya ktika menikmati sari gula yang diberikn ayahnya.
"baiklah! semua sudah berkumpul dan membawa remah masing2. Sekarang ceritakan  kisah dibalik remah yang kalian dapatkan itu" seru bapak semut.
Giliran cerita sesuai denga urutan masing2 anak. Anak yg pertama menceritakan remah yang dibawanya dan menunjukan kepada ayah dan seluruh saudaranya
"ini adalah remah roti beras! Sangat lezat sekali tentunya,aku mengotongnya dari sbuah toko roti besar di sebrang jalan raya. Aku mendapati 3 kesulitan untuk memperolehnya: pertama, pemilik roti dan pegawainya sangat menjga roti2 mereka dari semut. Kedua, untuk mendapatkannya aku harus menunggu beberapa jam sampai ada seorang anak kecil bersama orangtuanya membeli roti. Kemudian anak kecil itu makan sambil berjalan sehingga remah dari rotinya berjatuhan. Saat itulah aku mgambilnya. Ketiga: aku harus melewati jalan raya besar yg berbahaya utk pergi dan pulang mbawa roti ini. Ini dia ayah" anak pertama menyerahkn remah roti.

Selesai anak pertama giliran brikutnya adlh anak semut yg kedua.
"Ini adalah remah ketupat! Sangat lezat sekali tentunya. Aku menggotongnya dari sebuah rumah disekitar sini. Rumah itu banyak sekali orang-orang didalamnya. Mereka saling bersalaman dan tersenyum satu sama lain. Setelah itu berbicara, yg anak2 bermain namun ada pula yg makan ketupat ini. Aku merasakan kebahagiaan saat melihat suasana tersebut sampai membuat aku hampir lupa harus membawa pulang remah. Ada 2 kesulitan yang aku dapatkan untuk mperolehnya: pertama, aku harus berhati-hati melewati banyak kaki manusia dan kedua aku harus merayap ke atas meja mkn yang tinggi dan piring kaca yg licin untuk mbawa ketupat ini. Ini dia ayah" anak kedua menyerahkan remah ketupat.

Lalu giliran anak ketiga
"Ini adalah remah nasi! Sungguh lezat tentunya. ketika ayah menyebutkan harus berasal dari padi… yang ada dipikiranku adalah nasi. Jadi aku mendapatkanya di tempat yg tidak jauh dari sini. Karena ku piker semua orang di wilayah ini menyukai nasi sebagai makanan pokok. Siang tadi seorang manusia yg membawa gerobak  diberikan bungkusan makanan oleh orang dari dalam mobil. Dia memakannya dibawah pohon bersama anak istrinya. Bersama istrinya ia menyuapi anak-anaknya. Ketika menyodorkan nasi ke mulut salahsatu dari anak, ada beberapa butir nasi yg terjatuh. Saat itulah aku mengambilnya. Kesulitanku hanya satu, aku harus bersaing dengan semut rang-rang penghuni pohon itu untuk membawa pulang nasi ini. Ini dia ayah" anak yg ketiga memberikan remah nasi ke hadapan bapak semut.

Lalu giliran terakhir adalah anak yang keempat.
"ini adalah remah nasi…aking,tapi tidak sama dengan kakak ketiga. Karena sungguh ini tidak lezat. Mungkin tidak ada kisah yg indah dan ptualangan hebat yg dapat ku ceritakan dari remah ini. Aku membawanya dari sebuah gubuk kecil dibelakang rumah-rumah besar disekitar sini. Ibu berwajah sedih dan muram pemilik gubuk itu, membawa nasi ini di plastik lalu memasaknya untuk anak satu-satunya. Aku tidak mendapat kesulitan saat membawanya karena ibu itu memberikannya padaku. Ini dia ayah" Sebelum anak semut keempat menyerahkan pada bapak semut, ia menahannya dan bertanya pada anaknya itu,
"kenapa ia memberikannya padamu, Coba katakan padaku dan kakak-kakakmu?"
Anak semut tertunduk sedih,
"aku tidak ingin menceritakannya karena tidak yang indah didalamnya, hanya ada kesedihan"
Mendengar itu kakak-kakaknya menghampiri adik mereka dan mencoba menghibur.
"Ayo ceritakan, tidak apa-apa kami berjanji tidak akan mengejekmu" ujar anak semut yg pertama.
Anak semut yg terakhir itu akhirnya mau bercerita meskipun dengan berat hati.

"Saat aku mencari makanan yang dibuat dari padi dirumah itu, aku hanya mendengar tangisan seorang anak kecil dengan kepala tertunduk dimeja makan dan bdoa 'Tuhan puasa sudah usai, aku ingin merayakan kemenangan dengan makanan lezat'. Setelah itu Ibunya pulang mbawa seplastik nasi ini dan memasaknya. Saat disajikan diatas piring dan diberikan pada anaknya,anak itu menggeleng dan berkata bahwa dia sudah sering memakan ini, dan nasi ini tidak enak. Dia ingin makan apapun selain ini dihari raya. Kemudian sang ibu menghiburnya dan berkata kalau rezeki ini yang mereka punya, ia meminta anaknya mencoba karena kali ini pasti berbeda dan lezat karena sudah diberikan bumbu-bumbu. Bahkan semutpun akan suka dan mengerubunginya. Anak itu awalnya menolak dan tidak percaya akan perkataan ibunya. Ibu itu lalu mencari seekor semut utk mbuktikannya. Ia melihatku dibawah meja yang sejenak tak sadar karena terharu pada keinginan anak itu. Ibu itu meletakanku diatas sebuah piring dan berkata aku akan memakannya dan membawanya. Tadinya aku tidak ingin membawanya karena saat aku mencobanya tidaklah lezat. Tapi melihat harapan besar dari mata Ibu itu maka aku membawanya dan meminta salahsatu semut yang ku jumpai untuk menolongku. Dan ini dia ayah" Anak semut keempat menyerahkan pada Bapak semut dan kali ini tidak ditahannya.
"Ceritamu indah..." ujar kakaknya yang kedua
"Betul kisahmu indah dik" ujar anak semut yang ketiga.
"Bahkan remah rotiku pun akan menjadi kalah lezat dari apa yg kau bawa" kali ini anak semut pertama yang berkata.
Bapak semut tersenyum pada mereka semua.
"Terimakasih, kalian anak-anak yang hebat. Tidak banyak bertanya. Hanya melaksanakn yang aku tugaskan. Karena itu kisah kalian semua menarik dan indah bagiku. Namun tetap harus diputuskan salahsatu diantara kalian yang akan menggantikanku dan menghadap ratu besok"
"Ya ayah, apapun yang akan ayah putuskan kami setuju denganmu" ujar anak semut kedua.
"Aku juga!"
"Aku juga..." ujar yg lainnya.
"Kalau begitu, aku serahkan pada kalian untuk memutuskan siapa  diantara kalian yang akan menggantikanku" putus bapak semut tersenyum senang mlihat kedewasaan sikap anak-anaknya.
"Bagaimana kalau adik kecil kami yg menggantikanmu. Remah nasi yang dibawanya memang tidak selezat yang ku bawa maupun yang lain. Tapi dia telah baik dan bijak karena memutuskan membawanya demi membantu seorang ibu dan menghibur seorang anak. Dia akan menjadi pemimpin yang baik bagi koloni nantinya" ujar anak semut yang pertama, kemudian diikuti anggukan setuju dari anak2 yang lain.
"Baiklah, kalau begitu aku putuskan yang sama. Kau nak, yang akan menjadi komandan pasukan semut berikutnya" tunjuk bapak semut kepada anaknya yang keempat.
Anak semut itu mendekati ayah dan kakak-kakaknya,
"Terimakasih ayah, terimakasih saudara-saudaraku. Aku hanya melakukan apa yang ayah pernah nasihati dan yang saudaraku pernah teladani padaku" ujarnya terharu.
Maka terpilihlah anak semut keempat sebagai komandan pasukan semut. Keesokan harinya bersama ayah dan kakak2nya ia menghadap ratu semut. Setelah bapak semut menceritakan sebab terpilihnya,ratu pun dengan bangga menyetujuinya dan segera mengangkatnya menjadi komandan pasukan semut.
Pada malam hari dengan tubuh yang tidak kuat lagi mnahan sakit, Bapak semut memanggil anak2nya. Semua anaknya mengelilingi dengan perasaan khawatir dan sedih melihat ayahnya yang sakit.
"Semoga Tuhan menjadikan kalian selalu rukun seperti ini. Tugasku cukup sampai disini. Terimakasih karena menuruti semua nasihatku. Dengarkan baik2 nasihatku yang terakhir kalinya... kalian harus saling menjaga sebagai saudara, mengingatkan yang salah dan mendukung perbuatan baik sperti yang terjadi kemarin saat aku memberikan tugas. Tentang tugas itu, makanan dari Padi ku pilih hanyalah sebagai dasar untuk menguji kemampuan kalian,tidak ada alasan yg lain. Tetaplah menjalani gotong royong dalam kebaikan diantara kalian dan koloni2 semut. Kurangi berdebat dan bertanya tapi banyaklah berbuat dan berusaha."
Anak2nya mendengarkan dan dalam hati mereka berjanji untuk melaksanakan pesan dari ayahnya. Tak lama kemudian bapak semut meninggalkan mereka. Dengan tegar anak-anak semut melepas kepergian ayah mereka. 

Beberapa tahun kemudian mereka berkumpul kembali dilubang tanah tempat ayah mereka tinggal dulu. Semuanya menjalani hidup seperti nasihat ayah mereka. Anak semut yang keempat telah menjadi komandan pasukan semut dan memimpin semut2 lain bergotong royong termasuk memimpin kakak2nya. Meskipun begitu ia tetap menghormati kakak2nya ketika mereka bertemu dan begitupun sebaliknya.***






Bekasi, Djoem'at 090911 (tanggal biasa) persembahan untuk anak Indonesia (bukan kado yang ultah) 
-Desi-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar