Seekor Bapak semut
yang sudah tua berdiri diatas batu dihadapan empat orang anak lelakinya. Selain
bapak dari empat semut jantan, ia dikenal sebagai Komandan Pasukan Semut (KoPaSut)
yang terkenal dikoloninya. Bapak semut berbicara serius kepada anak-anaknya dan
menatap mereka satu per satu.
"Anak-anakku,
sebentar lagi aku akan mati. Namun sebelum aku mati aku ingin menunjuk
salahsatu dari kalian yang pantas untuk dihadapkan kepada ratu sebagai komandan
pasukan semut. Keluarga kita sudah dikenal sebagai keluarga komandan pasukan
semut dari mulai kakeku sampai diriku sekarang. Namun aku tidak ingin salah
menunjuk anak yang pantas menggantikanku kelak, makanya aku kumpulkan kalian
disini untuk mendengarkan ini"
Keempat anak semut
menyimak kata-kata Bapak semut tanpa menyela sedikit pun, meski dalam hati
mereka khawatir akan kata mati yang disinggung ayahnya. Mereka menunggu sampai
ayah mereka diam untuk memberikan kesempatan berbicara.
"lalu siapa
yang ayah pilih diantara kami?" tanya anaknya yang pertama setelah Bapak
semut terdiam lama.
"aku tidak
akan sembarang menunjuk,tapi aku akan memberikan petunjuk kepada kalian"
"petunjuk
seperti apa ayah?' tanya anak keduanya
"petunjuk untuk
melakukan sebuah tugas yang harus kalian laksanakan"
"Tugas?
seperti sebuah pertandingan-kah, ayah? sela anak yang ketiga
"sst.... ayah
belum selesai bicara!" anak keempat mengingatkan kakaknya
"maafkan aku
ayah" ujar anak ketiga merasa tidak enak hati.
Bapak semut
terbatuk sesaat.
"ya sudahlah.
Sekarang dengarkan baik-baik. Ini adalah tugas,bukan pertandingan. Tugas ini
untuk mencari yang terbaik diantara kalian, anak-anakku yang paling baik.
Siapapun yang berhasil membawa kisah indah dalam tugasnya akan aku pilih dia
sebagai anak yang akan dihadapkan pada Ratu sebagai komandan pasukan
semut."
Bapak semut terbatuk
lagi, hampir saja ia terjatuh dari atas batu, namun dengan sigap keempat
anaknya membantunya agar tidak jatuh.
"Tugas akan kalian
lakukan besok pagi2 sekali, pergilah mcari remah makanan terbaik yg bisa kalian
dapatkan. Dan kembalilah sore harinya, kemudian ceritakan pdku tentang remahan
yg kalian bawa nanti. Hanya satu aturannya, remah yg kalian bawa nanti harus
berasal dari padi." jelas bapak semut.
"kenapa harus
dari padi ayah?" tanya keempat anak semut kompak.
Bapak semut tidak
menjawabnya, ia justru langsung masuk ke lubang tanah beristirahat. Keempat
anaknya saling memandang bingung dan bertanya satu sama lain.
"Sudahlah.
Kita turuti saja perintah ayah. Kalian ingat nasihat ayah semenjak kita kecil: kurangi berdebat dan
banyaklah berbuat." ujar anak semut yg tertua.
"kakak benar!
Kita istirahat sekarang,karena besok kita harus melaksanakan tugas dari
ayah" anak semut yg ketiga membenarkan kata2 kakak ptamanya.
Keempat anak semut
itu pun masuk ke dalam lubang dan beristirahat. Saat pagi tiba mereka langsung
keluar dari lubang dan masing2 pergi ke arah yg berbeda. Sementara itu bapak
semut pergi menemui ratu semut dan myampaikan maksudnya untuk mundur sebagai
komandan pasukan semut. Dia jg mengatakan salahsatu dr empat anaknya akan menggantikan
tugasnya mulai besok.
Sekembalinya ke
dalam lubang ia berdiam diri mengatur napasnya yg tersengal2 menahan sakit
ditubuhnya. Ketika sore tiba dan satu persatu anak2nya kembali. Bapak semut berusaha
tersenyum menyambut mereka. Setiap anak yang tiba disuguhinya sari gula
simpanannya.
"terimakasih
ayah. ini lezat sekali!" ucap anak2nya ktika menikmati sari gula yang diberikn
ayahnya.
"baiklah!
semua sudah berkumpul dan membawa remah masing2. Sekarang ceritakan kisah dibalik remah yang kalian dapatkan itu"
seru bapak semut.
Giliran cerita
sesuai denga urutan masing2 anak. Anak yg pertama menceritakan remah yang
dibawanya dan menunjukan kepada ayah dan seluruh saudaranya
"ini adalah
remah roti beras! Sangat lezat sekali tentunya,aku mengotongnya dari sbuah toko
roti besar di sebrang jalan raya. Aku mendapati 3 kesulitan untuk memperolehnya:
pertama, pemilik roti dan pegawainya sangat menjga roti2 mereka dari semut. Kedua,
untuk mendapatkannya aku harus menunggu beberapa jam sampai ada seorang anak
kecil bersama orangtuanya membeli roti. Kemudian anak kecil itu makan sambil
berjalan sehingga remah dari rotinya berjatuhan. Saat itulah aku mgambilnya.
Ketiga: aku harus melewati jalan raya besar yg berbahaya utk pergi dan pulang
mbawa roti ini. Ini dia ayah" anak pertama menyerahkn remah roti.
Selesai anak
pertama giliran brikutnya adlh anak semut yg kedua.
"Ini adalah
remah ketupat! Sangat lezat sekali tentunya. Aku menggotongnya dari sebuah
rumah disekitar sini. Rumah itu banyak sekali orang-orang didalamnya. Mereka
saling bersalaman dan tersenyum satu sama lain. Setelah itu berbicara, yg anak2
bermain namun ada pula yg makan ketupat ini. Aku merasakan kebahagiaan saat melihat
suasana tersebut sampai membuat aku hampir lupa harus membawa pulang remah. Ada
2 kesulitan yang aku dapatkan untuk mperolehnya: pertama, aku harus berhati-hati
melewati banyak kaki manusia dan kedua aku harus merayap ke atas meja mkn yang
tinggi dan piring kaca yg licin untuk mbawa ketupat ini. Ini dia ayah"
anak kedua menyerahkan remah ketupat.
Lalu giliran anak
ketiga
"Ini adalah
remah nasi! Sungguh lezat tentunya. ketika ayah menyebutkan harus berasal dari
padi… yang ada dipikiranku adalah nasi. Jadi aku mendapatkanya di tempat yg
tidak jauh dari sini. Karena ku piker semua orang di wilayah ini menyukai nasi
sebagai makanan pokok. Siang tadi seorang manusia yg membawa gerobak diberikan bungkusan makanan oleh orang dari dalam
mobil. Dia memakannya dibawah pohon bersama anak istrinya. Bersama istrinya ia
menyuapi anak-anaknya. Ketika menyodorkan nasi ke mulut salahsatu dari anak, ada
beberapa butir nasi yg terjatuh. Saat itulah aku mengambilnya. Kesulitanku
hanya satu, aku harus bersaing dengan semut rang-rang penghuni pohon itu untuk
membawa pulang nasi ini. Ini dia ayah" anak yg ketiga memberikan remah
nasi ke hadapan bapak semut.
Lalu giliran
terakhir adalah anak yang keempat.
"ini adalah
remah nasi…aking,tapi tidak sama dengan kakak ketiga. Karena sungguh ini tidak
lezat. Mungkin tidak ada kisah yg indah dan ptualangan hebat yg dapat ku
ceritakan dari remah ini. Aku membawanya dari sebuah gubuk kecil dibelakang rumah-rumah
besar disekitar sini. Ibu berwajah sedih dan muram pemilik gubuk itu, membawa
nasi ini di plastik lalu memasaknya untuk anak satu-satunya. Aku tidak mendapat
kesulitan saat membawanya karena ibu itu memberikannya padaku. Ini dia
ayah" Sebelum anak semut keempat menyerahkan pada bapak semut, ia
menahannya dan bertanya pada anaknya itu,
"kenapa ia
memberikannya padamu, Coba katakan padaku dan kakak-kakakmu?"
Anak semut
tertunduk sedih,
"aku tidak
ingin menceritakannya karena tidak yang indah didalamnya, hanya ada
kesedihan"
Mendengar itu
kakak-kakaknya menghampiri adik mereka dan mencoba menghibur.
"Ayo
ceritakan, tidak apa-apa kami berjanji tidak akan mengejekmu" ujar anak
semut yg pertama.
Anak semut yg terakhir
itu akhirnya mau bercerita meskipun dengan berat hati.
"Saat aku mencari
makanan yang dibuat dari padi dirumah itu, aku hanya mendengar tangisan seorang
anak kecil dengan kepala tertunduk dimeja makan dan bdoa 'Tuhan puasa sudah
usai, aku ingin merayakan kemenangan dengan makanan lezat'. Setelah itu Ibunya
pulang mbawa seplastik nasi ini dan memasaknya. Saat disajikan diatas piring
dan diberikan pada anaknya,anak itu menggeleng dan berkata bahwa dia sudah
sering memakan ini, dan nasi ini tidak enak. Dia ingin makan apapun selain ini
dihari raya. Kemudian sang ibu menghiburnya dan berkata kalau rezeki ini yang
mereka punya, ia meminta anaknya mencoba karena kali ini pasti berbeda dan
lezat karena sudah diberikan bumbu-bumbu. Bahkan semutpun akan suka dan mengerubunginya.
Anak itu awalnya menolak dan tidak percaya akan perkataan ibunya. Ibu itu lalu
mencari seekor semut utk mbuktikannya. Ia melihatku dibawah meja yang sejenak
tak sadar karena terharu pada keinginan anak itu. Ibu itu meletakanku diatas sebuah
piring dan berkata aku akan memakannya dan membawanya. Tadinya aku tidak ingin
membawanya karena saat aku mencobanya tidaklah lezat. Tapi melihat harapan
besar dari mata Ibu itu maka aku membawanya dan meminta salahsatu semut yang ku
jumpai untuk menolongku. Dan ini dia ayah" Anak semut keempat menyerahkan
pada Bapak semut dan kali ini tidak ditahannya.
"Ceritamu
indah..." ujar kakaknya yang kedua
"Betul
kisahmu indah dik" ujar anak semut yang ketiga.
"Bahkan remah
rotiku pun akan menjadi kalah lezat dari apa yg kau bawa" kali ini anak
semut pertama yang berkata.
Bapak semut
tersenyum pada mereka semua.
"Terimakasih,
kalian anak-anak yang hebat. Tidak banyak bertanya. Hanya melaksanakn yang aku
tugaskan. Karena itu kisah kalian semua menarik dan indah bagiku. Namun tetap
harus diputuskan salahsatu diantara kalian yang akan menggantikanku dan menghadap
ratu besok"
"Ya ayah,
apapun yang akan ayah putuskan kami setuju denganmu" ujar anak semut
kedua.
"Aku
juga!"
"Aku
juga..." ujar yg lainnya.
"Kalau begitu,
aku serahkan pada kalian untuk memutuskan siapa
diantara kalian yang akan menggantikanku" putus bapak semut
tersenyum senang mlihat kedewasaan sikap anak-anaknya.
"Bagaimana
kalau adik kecil kami yg menggantikanmu. Remah nasi yang dibawanya memang tidak
selezat yang ku bawa maupun yang lain. Tapi dia telah baik dan bijak karena
memutuskan membawanya demi membantu seorang ibu dan menghibur seorang anak. Dia
akan menjadi pemimpin yang baik bagi koloni nantinya" ujar anak semut yang
pertama, kemudian diikuti anggukan setuju dari anak2 yang lain.
"Baiklah,
kalau begitu aku putuskan yang sama. Kau nak, yang akan menjadi komandan
pasukan semut berikutnya" tunjuk bapak semut kepada anaknya yang keempat.
Anak semut itu mendekati
ayah dan kakak-kakaknya,
"Terimakasih
ayah, terimakasih saudara-saudaraku. Aku hanya melakukan apa yang ayah pernah
nasihati dan yang saudaraku pernah teladani padaku" ujarnya terharu.
Maka terpilihlah
anak semut keempat sebagai komandan pasukan semut. Keesokan harinya bersama
ayah dan kakak2nya ia menghadap ratu semut. Setelah bapak semut menceritakan
sebab terpilihnya,ratu pun dengan bangga menyetujuinya dan segera mengangkatnya
menjadi komandan pasukan semut.
Pada malam hari dengan
tubuh yang tidak kuat lagi mnahan sakit, Bapak semut memanggil anak2nya. Semua
anaknya mengelilingi dengan perasaan khawatir dan sedih melihat ayahnya yang
sakit.
"Semoga Tuhan
menjadikan kalian selalu rukun seperti ini. Tugasku cukup sampai disini.
Terimakasih karena menuruti semua nasihatku. Dengarkan baik2 nasihatku yang terakhir
kalinya... kalian harus saling menjaga sebagai saudara, mengingatkan yang salah
dan mendukung perbuatan baik sperti yang terjadi kemarin saat aku memberikan
tugas. Tentang tugas itu, makanan dari Padi ku pilih hanyalah sebagai dasar untuk
menguji kemampuan kalian,tidak ada alasan yg lain. Tetaplah menjalani gotong
royong dalam kebaikan diantara kalian dan koloni2 semut. Kurangi berdebat dan bertanya
tapi banyaklah berbuat dan berusaha."
Anak2nya mendengarkan
dan dalam hati mereka berjanji untuk melaksanakan pesan dari ayahnya. Tak lama
kemudian bapak semut meninggalkan mereka. Dengan tegar anak-anak semut melepas
kepergian ayah mereka.
Beberapa tahun
kemudian mereka berkumpul kembali dilubang tanah tempat ayah mereka tinggal
dulu. Semuanya menjalani hidup seperti nasihat ayah mereka. Anak semut yang
keempat telah menjadi komandan pasukan semut dan memimpin semut2 lain bergotong
royong termasuk memimpin kakak2nya. Meskipun begitu ia tetap menghormati
kakak2nya ketika mereka bertemu dan begitupun sebaliknya.***
Bekasi, Djoem'at 090911 (tanggal biasa) persembahan untuk anak Indonesia (bukan kado yang ultah)
-Desi-
-Desi-






Tidak ada komentar:
Posting Komentar