Powered By Blogger

Rabu, 14 September 2011

Bocah Penggembala Biri-biri dan Bintang Kecil



Pada suatu ketika hiduplah seorang bocah lelaki yang bekerja menjadi penggembala biri-biri. Umurnya 13 tahun, Pipinya tembem bersemu merah, rambutnya ikal bewarna cokelat, badanya tinggi dan hidungnya pesek. Begitu kau melihatnya kau akan terkesima dengan tatapan jenakanya. Iya kau akan menyukainya.
Ia tidak memiliki Ayah dan Ibu. Meskipun begitu ia tidak pernah bersedih hati, Ia selalu bahagia.  Ia tidak pernah menangis ketika hal yang paling menyedihkan menimpanya. Saat ia terjatuh ia berkata, maaf ya tanah aku menyakitimu. Bahkan ketika ia ditinggalkan ayah dan ibunya pada suatu kecelakaan perahu di Telaga Violet. Ia hanya berkata, “Ayah-Ibu Tuhan sudah menjemput-kalian, aku akan menjaga biri-biri Tuan Demetria. Hanya itu yang aku bisa lakukan”.
Bocah penggembala biri-biri tinggal sendirian di sebuah pondok sederhana dekat dengan padang rumput. Di atas tanah milik Tuan Demetria. Tuan Demetria, majikan dari ayah bocah penggembala biri-biri adalah seorang tuan tanah yang baik hati, ia mengizinkan bocah penggembala biri-biri tinggal di sana selamanya. Asalkan ia merawat biri-birinya dan mau merawat pondok.
Selain tidak pernah bersedih, bocah penggembala biri-biri juga mampu bersahabat dengan hewan-hewan yang hidup di sekitar padang rumput. Ketika ia menggembala biri-biri pundak kirinya dihinggapi triwili, burung pipit yang bercicit merdu. Si wuzy kelinci mengiringi langkah kakinya sambil membawa rumput, wongka si anjing saint bernard milik Tuan Demetria selalu berjalan di depan si bocah penggembala biri-biri.  Seluruh penduduk desa senang dengan bocah penggembala biri-biri, karena ia dan tingkah lucu pasukan satwanya membawa kegembiraan.
    Pada setiap doanya bocah penggembala biri-biri tidak pernah meminta, ia hanya bersyukur. Hal itu membuat nyonya Demitria terharu, ia menghadiahkan sebuah seruling kecil agar bocah penggembala biri-biri tidak merasa kesepian. Seruling itu selalu dimainkanya saat ia beristirahat di bawah pohon walnut. Ketika ia memainkan sulingnya triwili menari menggoyangkan buntutnya, wuzy berdiri dan mengembankempiskan hidungnya, lalu wongka meyalak-nyalak seakan ikut bernyayi.
************
Saat ini sedang musim dingin, biri-biri dikandangkan. Sebagai pengganti tugas,  Bocah penggembala biri-biri dimintai tolong untuk menjual hasil rajutan wol dari biri-biri di toko milik Nyonya Demetria.
Tahukah kamu, bagaimana wol dihasilkan? Wol dihasilkan dari bulu biri-biri yang dicukur saat akhir musim gugur. Kemudian wol dipintal hingga menjadi benang, lalu benang dirajut menjadi kaus kaki, syal dan baju hangat.
Sahabat satwa si bocah penggembala biri-biri tetap setia menemani sahabat ikal dan tembamnya itu dari pekarangan. Nyonya Demetria menyiapkan bentangan dahan pohon walnut sebagai tempat hinggap si triwili, sarang dari jerami untuk menghangatkan si wuzy dan kandang yang pintunya selalu terbuka untuk si wonka. Keberadaan satwa-satwa menggemaskan itu, memeriahkan suasana toko. Toko nyonya Demetria terletak di kota. Jarak dari pondok ke toko sekitar 100 mil. Maka dari itu bocah penggembala biri-biri menginap di toko Nyonya Demetria.

************
Pada suatu malam, bocah penggembala biri-biri mendengar suara seorang anak yang menangis. Sepertinya bocah laki-laki. Suaranya tak jauh dari toko Nyonya Demitria. Suaranya sayup-sayup. Namun anehnya, wonka tidak menyalak. Pendengaran anjing lebih tajam daripada manusia. Sepertinya hanya bocah penggembala biri-biri yang mendengar suara tangis itu.
Bocah penggembala biri-biri turun dari tempat tidurnya. Ia memakai mantelnya, alas kaki dan membawa lampu. Ia membuka pintu memeriksa apakah di pekarangan toko ada seorang bocah yang sedang menangis, Dia tidak menemukan seorang anakpun di situ. Wonka, wuzy dan triwili terlelap tidur. Udara sangat dingin, namun bocah penggembala biri-biri tidak menyerah, Ia tetap mencari sumber suara tangisan. Ia memejamkan mata, melangkah mengikuti suara itu. Lama kelamaan suara semakin keras. Bocah penggembala biri-biri bergerak ke arah pagar pekarangan. Lalu ia membuka matanya. Suara itu ada di bawah kakinya.
Di bawah kakinya terdapat benda yang mengeluarkan cahaya yang gemerlapan seperti berlian. Lalu bocah penggembala biri-biri mengambil benda itu. Benda itu ternyata sumber dari suara tangisan. Ia punya mata, hidung, telinga dan mulut. Rambutnya terdiri dari benang cahaya. Tanpa takut bocah penggembala biri-biri mengangkat benda yang bisa berbicara itu ke hadapan wajahnya.


************

“mengapa kau menangis benda bercahaya?”
“aku terjatuh dari atas sana” kata benda bercahaya mendongakan kepalanya ke arah langit
“siapa kamu, bagimana kamu bisa terjatuh?” tanya bocah penggembala biri-biri
“aku Heka, aku anggota rasi bintang orion. Aku terjatuh saat aku berlari mengejar sirius”
“mari kuantarkan kau ke rumahmu, tapi bagimana caranya ya aku tak punya tangga setinggi itu. Kamu pasti sedih sekali karena tersesat” ucap bocah penggembala biri-biri
“kau bisa memulangkanku ke rasi bintang tempatku berasal, orion, dengan satu cara. Kau tinggal menjagkau langit dengan hatimu. Kau harus memulangkanku ketika Rigel bersinar terang. Rigel adalah Ayahku ” Heka terlihat sedih, cahayanya meredup
“hey itu seminggu lagi, ngomong-ngomong kamu lapar? Haus? Aku bisa masakan bubur jalai dan susu hangat untukmu” kata bocah penggembala biri-biri sambil membawa masuk henka ke dalam toko.
“kami para bintang tidak makan dan minum. Kami hidup dari cahaya, ngomong-ngomong mana ayah ibumu?”
“mereka sudah tiada” Jawab bocah penggmbala biri-biri
“hey tahukah kamu bocah penggembala, mereka sesungguhnya ada di langit bersama ruh-ruh orang-orang baik di rasi bintang memorius. Apakah kamu merasa sedih dan kesepian?”
“aku tak mau membuat mereka sedih dengan kesedihanku, aku selalu berdoa untuk mereka dan bekerja keras untuk Tuan dan Nyonya Demetria”
“mulia sekali hatimu” Heka mengeluarkan cahaya


************

Keesokan Paginya toko begitu ramai, orang-orang mendatangi toko untuk membeli baju hangat sabagai hadiah natal.
Heka diletakkan di dalam kotak transaparan di dekat gantungan sarung tangan wol
“hey bocah penggembala, apa itu?” Nyonya Fest mengambil kotak transparan  dan membukanya.
“wow ini berlian, dari mana kamu mendapatkannya?’
“itu terjatuh dari langit, itu bukan berlian tapi bintang jatuh” jawab penggembala biri-biri
“benarkah. Bisakah aku meminta sesuatu darinya. Kata kakeku bintang jatuh dapat mengabulkan permintaanmu?”
Semua orang yang ada di toko, melihat kejadian tersebut. Seketika semua orang mengalihkan perhatiannya pada Heka si bintang kecil
“anakku demam, dapatkah benda itu menyembuhkanya?” Tanya tuan Hektor
“Anggur dikebunku tidak juga berbuah, dapatkah benda itu menumbuhkannya?” Tanya Nyonya Lucia
“Anjingku tertabrak kreta kuda, dapatkah benda itu menghidupkannya?” Ucap Raven dengan sedih
“Aku perlu modal untuk membuka pertanian” dapatkah benda itu memberikannya?” Tanya Tuan Charlie
Tiba-tiba Heka menjawab
“hanya tiga permintaan yang dapat aku kabulkan, namun salah satunya harus berasal dari si bocah penggembala biri-biri”
“permintaanku yang harus kau kabulkan” ucapTuan Hektor
“Tidak, permintaanku lebih penting” paksa Nyonya Lucia
“Tapi anjingku tertabrak, aku ingin dia kembali” ucap Raven dengan wajah sedih
“ Hey hey hey, jika bintang kecil itu mengabulkan permintaanku, aku bisa mempekerjakan seluruh warga desa. Mampu memberikan uang untuk ankamu yang sakit, membelikan anjing baru untukmu dan membelikan bibit anggur yang berkualitas baik” Ucap Tuan Charlie pada Nyonya Lucia, Raven, dan Tuan Hektor
“Aku juga punya hak meminta bukan, tanya bocah penggembala biri-biri”
Semua orang diam. Heran karena bocah penggembala biri-biri akhirnya meminta.
“Iya, aku akan mengabulkan permintaanmu terlebih dahulu. Karena kamu yang menolongku. Lalu kamu yang menentukan siapa yang harus aku tolong” jawab Heka
“Baiklah minggu depan, pukul delapan malam. Kalian semua ikut aku ke padang rumput. Aku akan tentukan siapa yang berhak Heka tolong”
“Baiklah” jawab Raven, Nyona Lucia, Tuan Charlie dan Tuan Hektor berbarengan

************

Minggu depan, bocah penggembala biri-biri menunggu Raven, Nyona Lucia, Tuan Charlie dan Tuan Hektor di Padang rumput. Ia membawa Heka dalam kotak transparan. Lama kelamaan cahaya Heka makin memudar. Matanya menjadi sendu. Bocah penggembala biri-biri khawatir karena Heka butuh cahaya untuk pulang.
Tak berapa lama Raven, Nyona Lucia, Tuan Charlie dan Tuan Hektor datang, mereka tidak saja datang berempat namun datang bersama kepala desa, Tuan dan Nyonya Demetria, pak kebun dan hakim.
“mengapa sebanyak ini?” tanya bocah penggembala biri-biri sambil tersenyum
“karena kami ingin melihat bintang keci yang sanggup mengabulkan permintaanl” jawab Pak hakim
“kau harus menolongku, aku tak punya teman bermain lagi” ucap Raven
“aku yang harus kau tolong, pasti kau mau kan mengurus lahan pertanianku” kata Tuan Charlie
“aku lah yang berhak, anakku sakit” ujar Tuan hektor sambil menangis
“kebun anggurku butuh keajaiban” ucap nyonya Lucia membenarkan syalnya
“Hey biar bocah penggembala biri-biri yang memutuskan” Kata Tuan Demetria menghentikan perdebatan
Semua menunduk karena malu
“Baiklah sudah saatnya, aku akan mengucapkan permintaanku sekarang” ucap bocah penggembala biri-biri

************

Bocah biri-biri memandang Heka yang ada di dalam genggamanya, ia menatap mata Heka yang hampir menangis . Cahaya Heka mulai meredup.
Bocah penggembala biri-biri memjamkan mata, ia mengucapkan permintaan dalam hati. Yang hanya bisa terdengar olehmu. Kalian harus diam saat membaca bagian ini. Tidak boleh bersuara. Sssssssssssttttttt........
Semua orang yang ada di sana menduga-duga apa yang diminta oleh bocah penggembala biri-biri.
Nyonya Lucia menduga bocah penggembala biri-biri meminta makanan yang lezat karena seumur hidup bocah penggembala biri-biri tak pernah memakan makanan lezat
Tuan Hektor berfikir bocah penggembala biri-biri meminta wajah yang tampan, karena bocah penggembala biri-biri tidak setampan anaknya yang sedang sakit
Raven menebak bocah penggembala biri-biri meminta uang yang banyak, apalagi yang dibutuhkan bocah penggembala biri-biri kalau bukan uang? Pikir Raven
Tuan Charlie berfikir, Bocah penggembala biri-biri meminta ayah dan ibunya hidup lagi, apalagi yang dibutuhkan seorang anak laki-laki seusia bocah penggembala biri-biri kalau bukan orangtua, ucap Tuan Charlie dalam hati
Tuan hakim berpikir, bocah penggembala biri-biri meminta rumah yang mewah. Karena ia fikir bocah penggembala biri-biri sudah lelah dengan pondoknya yang sempit
Tuan dan Nyonya berpikiran sama, mereka berpikir bocah penggembala biri-biri ingin membahagiakan semua orang. Karena hati bocah penggembala biri-biri tak kalah mulia dari kemewahan
Bocah penggembala biri-biri kembali membuka matanya. Lalu ia menatap langit dan tersenyum
Tiba-tiba dari arah utara langit, ada satu bintang yanag sangat terang. Sianarnya mengalahkan cahaya bulan yang saat itu tertutup awan.

************

“Ayah!” Jerit Heka.
“Cepat sana temui ayahmu, ia pasti merindukanmu, teman kecil bercahayaku” bocah penggembala biri-biri
Heka melesat  dari geanggaman tangan bocah penggembala biri-biri, naik ke angkasa, ia meninggalkan cahaya berkilauan.
Di atas langit bintang yang sangat bercahaya dan Heka berpelukan. Lalu ada bintang yang datang di belakangnya. Yang sangat bercahaya adalah Rigel ayah dari heka dan bintang yanga da di belakang mereka adalah Sirius.
Semua orang terperangah.
“Apa yang kau lakukan bocah penggembala biri-biri kau melepasnya, memupuskan harapan kami semua. Tahukah kamu tanpa bintang kecil itu, permintaan kami tak akan terkabulkan?” ucap Tuan Hektor.
“Aku tahu Tuan Hektor” ucap bocah penggembala biri-biri
Jika kamu tahu, mengapa kau lakukan perbuatan bodoh itu?” Raven tampak kesal
“Aku sudah berjanji pada Heka si bintang kecil, untuk mengembalikannya pada hari ini. Aku tak mau mengorbankannya demi permintaan yang bisa dicapai dengan usaha. Tuan hektor, bawalah anakmu ke dokter terbaik. Nyonya Lucia, kau butuh pupuk yang bagus. Raven, rawatlah anak anjing yang tak terurus. Tuan Charlie, kau punya modal. Tanahmu subur, kau bisa membeli bibit yang baik di pasar”
Semua orang terdiam memikirkan ucapan bocah penggembala biri-biri.
“hey malam ini dingin sekali, sebaiknya kalian pulang. Aku sudah mulai terkena flu” Suara Pak Hakim memecah kesunyian
Semua orang setuju dengan Pak Hakim.
Bocah penggembala biri-biri pulang ke Toko dengan hati yang lega.

************

Esok hari menantinya. Harapan harus dicapai dengan usaha dan cinta. Heka dan Rigel tersenyum dari angkasa. Bedoa untuk bocah penggembala biri-biri. Tuan dan Nyonya Demetria, berharap bocah penggembala biri-biri bersedia diadopsi menjadi anak mereka.
Tahukah kau,apa yang diminta oleh bocah penggembala biri-biri? Kalau kau tahu malam ini Heka akan mendatangimu lewat mimpi.



Depok, 14 September 2011
-Mega-
Buat muridku Bintang yang belum menemukan langitnya









Tidak ada komentar:

Posting Komentar