Pada suatu hari di suatu tempat dan suatu masa dimana maraknya film atau rekaman cerita bajakan. Datanglah seorang pelanggan film bajakan ke sebuah lapak di pinggir trotoar. Film-film bajakan tergeletak menurut genre-nya diatas meja dari triplek berukuran 1X2 meter. Di sebelah kanan meja ada tumpukan film korea, disebelahnya berturut-turut film horror, film drama, dan film action.
“Bang! Film barunya mana? Tanya pelanggan kepada si penjual yang tengah sibuk melayani seorang pembeli.
“Tuh disitu!” si penjual menunjuk ke beberapa tumpukan film yang diikat dengan karet disebelah kiri meja. Si pelanggan memilah-milih beberapa film diantara sekian banyak tumpukan.
“Film ini udah ori (orisinal) gak?” Tanya si pelanggan menunjukkan film yang ada ditangannya.
“Udah itu mah.” Jawab si penjual masih melayani pembeli yang lain .
“Kalau film barunya Johnny Depp ada gak?”Tanya si pelanggan.
“Gue gak tau nama-nama yg main film, tp kalo lo tanya judul film bagus atau yg paling sering dicari gue bisa jawab.” Jawab si penjual.
Pembeli lain yg sedang dilayaninya meminta si penjual untuk memutar film bajakan yang dipilihnya. Si penjual menyalakan DVD player merk Cina bersama Televisi 14” yang ada dibelakangnya. Selang beberapa menit melihat kilasan film si pembeli terlihat puas dengan film versi bajakan yg dipilihnya.
” Oke!” ucapnya.
Si pelanggan yang tadinya sedang memilah-milih film melirik pada si pembeli lain tersebut. Dilihatnya begitu banyak film bajakan yang dibeli si pembeli lain.
“Beli bajakan banyak begitu buat ditonton sendiri?” tanyanya heran. Pembeli itu hanya menjawab dengan tersenyum. Si penjual kemudian membungkus semua film yang dibeli si pembeli lain dalam plastik besar. Si pembeli lalu membayar,
“Waduh duitnya gede bener, gak ada yang pas?” Tanya si penjual diikuti gelengan si pembeli.
“Kalau begitu tunggu sebentar, saya tukerin dulu di depan.”
Si penjual keluar dari lapaknya berjalan menuju ke sebuah toko di seberang jalan.
“Itu film-film mau ditonton sendiri” Tanya si pelanggan masih kepada si pembeli lain yang kali ini menjawab dengan singkat “iya”.
“kelihatan dari penampilan situ orang kaya, koq nontonnya film bajakan? gak sanggup bayar tiket bioskop?” Tanya si pelanggan sambil kembali memilih film.
“Kalau saya balikan pertanyaan itu ke kamu!” jawab si pembeli lain.
Si pelanggan meletakkan film ditangannya ke tempat semula, lalu menoleh pada pembeli lain tersebut.
“saya sudah lama langganan sama bang jeki, film-film yang dijual bagus gak kalah sama bioskop.”
“itu bukan jawaban.”ucap si pembeli.
“dan itu juga bukan jawaban pertanyaan saya. Situ ditanya malah balik nanya!”jawab si pelanggan agak naik darah. Si pembeli lain nampak tenang. Beberapa detik mereka berdua dalam hening.
“film apapun, ditonton atau ditayang dimanapun tergantung pada penontonnya. Apa yang ingin dia nikmati dari film tersebut, kualitas cerita saja atau gambarnya atau keseluruhan. Saya sendiri memilih menikmati yang pertama. Kalau saya ingin film dengan gambar atau suara atau keseluruhan kualitas yang terbaik untuk menontonnya, saya tak akan pergi kesini. Saya tinggal memesan studio sendiri di bioskop ataupun menyalakan home theatre di rumah saya” jelas si pembeli lain memecah keheningan.
“Situ memberi kesan kepada saya bahwa situ angkuh” ujar si pelanggan.
“Itu yang sebenarnya koq tanpa bermaksud angkuh” ujar si pembeli.
Si pelanggan kini tidak lagi naik darah. “Oke itu hak situ. Kalo saya bukan tidak sanggup tapi saya pecinta film dengan cerita menarik. Kalau setiap hari banyak film dengan cerita menarik tayang di bioskop, bisa-bisa habis gaji saya sebulan untuk menontonnya”.
Pembeli lain itu tersenyum, “Ada banyak cerita yang tidak perlu menghabiskan uang banyak, tak perlu dan tak dapat dibajak, bahkan tak perlu melewati lembaga sensor” ucap si pembeli.
Si pelanggan tertawa mendengarnya.
“Drive in dan layar tancap maksudnya” ujarnya masih tertawa. “bukan” si pembeli menggeleng.
“Sebuah tayangan cerita dalam bentuk film, mahal untuk ditonton karena beberapa hal yang mungkin kamu sudah tau, mahalnya tempat sewa untuk menonton dan biaya produksi film. DVD dan VCD player pun mahal untuk memperoleh perangkat lengkapnya. Film dalam pita dan piringan, keduanya mempunyai kekurangan yaitu bisa dibajak, bisa disensor, bisa diisi sampah sponsor ditengah cerita. Tapi ada satu perangkat tayangan (cerita, rekaman peristiwa, dokumenter kenangan) yang lebih baik dari keduanya, tahu apa itu?” lanjut si pembeli.
Si pelanggan mengangkat bahu.
“Coba situ perjelas, mungkin bisa saya jadikan referensi”.
Kini giliran si pembeli yang tertawa mendengar ucapan si pelanggan. Dia lalu menunjuk ke arah kepalanya.
“Apa?” Tanya si pelanggan.
“Otak” ucapnya.
“Maksud situ?” Tanya si pelanggan heran.
“Otak bagi saya adalah satu-satunya perangkat rekaman cerita dan kejadian yang tidak bisa dibajak karena keeksklusifanya. Selain itu ia anti kritik karena keabsolutan subjektifnya, anti sensor karena kevulgaran editorialnya, dan bebas merdeka dari pesan sponsor. Dan yang lebih hebatnya sebagai perangkat ia tidak memerlukan studio besar, home theatre, maupun perangkat lainnya untuk menayangkan rekaman didalamnya. Penayanganya pun dapat dilakukan atas keinginan maupun hadir dengan sendirinya. Hadir sendiri karena beberapa faktor tentunya. Faktor itu bisa saja suatu tempat, wewangian atau aroma, sebuah kata atau sederet kalimat dari sebuah dialog, puisi, dan lirik lagu, keadaan cuaca. Juga karena selembar foto” jelas si pembeli, kemudian ia melanjutkan “memang terdengar aneh menyandingkan bioskop,home theatre dengan otak. Walau tidak muncul secara fisik tapi rekaman didalamnya juga memiliki tema seperti tayangan cerita film. Tema-tema itu memiliki daftar peringkat yang paling sering tayang atau bias dikatakan masuk box office dan mendapat 5 popcorn didalam otak. Tema yang paling banyak disukai dan menduduki peringkat tinggi tentu saja adalah tema cinta, selain itu rekaman cerita ilmiah, komedi yang berisi cerita memalukan dan menggelikan, horor, persahabatan dan 1 lagi cerita inspiratif.”
“Walaupun agak janggal versi yang situ buat, tapi bisa saya terima persandingan antara Bioskop, perangkat tayangan rekaman cerita lain dengan otak. Kalau begitu rekaman cerita apa saja yang biasa ditayangkan di bioskop…umm…otak situ?”Tanya si pelangan
“Kalau hal itu, jawaban saya akan memiliki kesamaan dengan kamu jika ditanyakan seperti itu. Rekaman tentang cinta…itu yang paling sering, betul kan?”
“Ya memang. Tapi hadirnya atas kemauan situ atau faktor-faktor yang tadi situ sebutkan?”Tanya si pelanggan lagi.
Si pembeli tersenyum dan menjawab “kali ini mungkin tidak sama dengan kamu jawabannya. Paling sering tayangan itu hadir karena sebuah lagu dan liriknya. Terkesan norak seperti film-film India maupun drama musikal, sebuah lagu bisa tiba-tiba menjadi soundtrack dari tayangan rekaman cerita di otak saya” Si pembeli berhenti sejenak,wajahnya tampak memerah,.
“Sepertinya sebuah tayangan muncul di bioskop, maksudnya otak situ” ujar si pelanggan menunjuk kepala si pembeli.
“Ya, namun tak jarang juga berputar karena kemauan saya sendiri. Kalau cerita yang hadir lucu maka akan membuat saya tiba-tiba tertawa, kalau mengecewakan maka saya akan sedih, dan kalau rekaman ilmiah maka akan membuat kepala saya mendapat pencerahan dan juga pusing”
“Dan si pemilik otak pastinya akan selalu menjadi pemeran utama dalam rekaman cerita yang ditayangkan.” Ujar si pelanggan menambahkan.“Satu lagi, kalau di bioskop dan DVD kita hanya bisa melihat tayangan 1 rekaman cerita, di otak kita bisa melihat tayangan lebih dari satu rekaman cerita. Begitu kan?”
Si pembeli mengangguk setuju dengan penjelasan tambahan si pelanggan.
Si penjual telah kembali ke lapaknya dan memberikan beberapa lembar uang kembalian kepada si pembeli.
“Terimakasih” ujar si pembeli lalu beranjak pergi.
“Sebentar” panggil si pelanggan
“Ya, ada apa?” si pembeli menoleh pada si pelanggan.
“Lalu apa judul Tiap ceritanya?” Tanya si pelanggan.
“Judulnya sama,walaupun temanya berbeda” ujar si pembeli
“Saya pikir judul itu sama dengan judul cerita situ saya dan semua orang, benar?”
“Ya”
“Jadi judulnya?”
Si pembeli kemudian mengulurkan tangannya kepada si pelanggan yang walaupun heran ikut mengulurkan tangannya juga.
“Kenangan” jawab si pembeli kemudian berlalu dari si pelanggan.
”Bagus” teriaknya kepada si pembeli .
Si penjual yang menyaksikan menatap heran, kemudian bertanya pada si pelanggan
“Lo cari cerita yang judulnya apa si gus, kenapa nanya ke cewek tadi. Apa coba sebutin sekarang gue cariin”. si pelanggan kemudian tertawa dan meminta si penjual memutar film yang dipilihnya, “coba yang ini!”
Bekasi, 6 April 2011
-desi-
-desi-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar