Powered By Blogger

Selasa, 19 Juni 2012

Pemikiran Berat Tentang Kentut


Dalam hidup ini kita sering meremehkan hal yang semestinya kita syukuri. Betapa kita selalu mengeluh dan mengeluh. Fokus dengan apa yang kita tidak punyai, lakukan dan belum kita dapatkan. Contoh kecil aja, kita jarang banget bersyukur kalo kita bisa kentut. Bagi yang muslim, bilang Alhamdulillah aja enggan karena kentut dianggap najis. 


Kentut atau flatus dalam istilah medis adalah hasil kerja berat yang dilakukan oleh sistem penceraan kita. Pernah gak kepikiran sampe situ?


Ni coba simak copasan saya tentang kentut dari blog sebelah


Flatus merupakan gejala dari dua peristiwa yaitu : menelan udara dan fermentasi karbohidrat yang tidak dapat diserap oleh bakteri. Udara yang tertelan yang tidak dikeluarkan dengan sendawa akan menyebabkan kentut. Udara yang tertelan lebih dari 500 mL perhari akan menyebabkan flatus (terutama nitrogen). Fermentasi karbohidrat yang tidak dapat diserap oleh bakteri akan menghasilkan gas yang terdiri dari H2 , CO2 dan metana. Sebagian besar fermentasi terjadi dikolon. Bagaimanapun juga hal ini disebabkan oleh banyaknya substrat kecil yang dapat difermentasi terdapat dikolon. Substansi ini termasuk fruktosa, laktosa, sorbitol, trehalose, raffinose dan stachynose. Zat tepung dan serat yang kompleks juga menyebabkan gas. Produksi gas juga mungkin meningkat pada meningkatnya asupan karbohidrat dan malabsorbsi karbohidrat


Ribet kan prosesnya? Kita sebagai manusia awam, nggak kepikiran sampe sebegitu ribetnya kentut. Nggak kepengen tahu juga dalam kentut senyawa apa aja yang terlibat dan enzim apa aja yang memproduksi kentut. Yang penting kalo udah kentut, perut rasanya lega. Hari rasanya indah. Apalagi kalo ampe menghasilkan bunyi yang mirip sama mercon. Beuuuuhhhhh sorga dunia banget.


Coba deh sekali aja temans  berpikir iseng, bagaimana kalo kita tidak kentut?! Pasti menderita bukan? Gue baca di salah satu artikel kesehatan: Konsekuesi Tidak Kentut ADALAH Mati. Emang si kematian rahasia Tuhan, tapi gimana aja gitu kalo kita jadi headline news di koran nasional dengan tajuk: ORANG INI MATI KARENA TIDAK BISA KENTUT


Emang seberapa pentingnya si kentut itu? Gini ni, tubuh kita akan membuang zat-zat berlebih atau yang tidak berguna.  Nah zat yang dikeluarkan bisa berupa air seni (dari dulu mikir, bisa nyanyi nggak ama main gitar), lewat keringet, lewat kotoran, lewat sendawa dan lewat kentut.


Kentut berfungsi membuang gas yang ada di dalam usus kita. Coba kalo nggak kebuang? Gas itu bisa membuat usus kita pecah temans.  Tau kan prinsip tekanan udara? Semakin kuat tekananya semakin kuat daya ledaknya, maka dari itu harus ada sistem pembuangan. 


Mari syukurilah kentut kita, buang air kita, keringat kita...


Mulai bersyukur dari yang kecil dulu, mulailah berdoa dengan bersyukur bukan meminta. Apalagi minta kentut temans bisa jadi bahan bakar satu negara. Oh sangat muluk sekalih. 


Jangan mengeluhkan sesuatu yang tidak kita punyai seperti mobil ferari dan pasangan yang nggak good looking (curcol), coba kalo punya itu semua nggak bisa kentut? Semua keindahan dunia tidak bisa menjadi indah lagi.......


Lalu apakah bersyukur saja sudah cukup?
Jawabanya adalah BELUM. Kog gitu? Apa yang harus kita lakukan setelah bersyukur masih bisa kentut? Bikin kentut kita jadi bahan bakar satu negara?


Jawabanya: BUKAN


Lhoh, lalu apa?
Setelah kita bersyukur, Pertama, kita harus mempertahankan iman kita. Karena bersyukur adalah bukti iman kita pada Tuhan. Kedua, kita harus juga memelihara sumber kenikmatan kita.


Kalo mau kentut teratur ya perhatikan apa yang kita konsumsi, jangan tabung gas elpiji ditelen.


Kalo nggak mau sakit dan akhirnya mengeluh ya jaga kesehatan.


Kalo nggak mau kebanjiran dan akhirnya mengeluhkan sistem drainase yang emang udah jelek, ya jangan buang sampah sembarangan, dan kalo bangun sesuatu analisa dulu dampak lingkunganya


Kalo mau naik kelas, ya, harus ikuti ujian dulu dengan sungguh-sungguh, jangan cari jalan pintas aja maunya. Ntar kalo udah dapet jalan pintas tapi nggak berhasil, marah-marah sama Tuhan. Bilang Tuhan nggak adil lah, bilang orang lain lebih beruntung lah. Dan lah lah lainnya.


Bersyukur yang baik ternyata tidak sekedar bilang Thanks God, lantas update status ke facebook atau nggak ngetweet, unggah  gambar kita sehabis kentut :D. 



Ingat, bersyukur itu adalah bertanggung jawab juga kepada nikmat Tuhan.  Dengan menjaga apa yang sudah kita peroleh, berusaha sungguh-sungguh dan tidak melakukan jalan pintas yang ujung-ujungnya jadi kufur nikmat (enggan mengakui nikmat yang sudah diberikan).


Lalu apa bahaya dari kufur nikmat?
1. Serakah
2. Penyakitan
3. Hidup dipandang sebagai penderitaan
4...... (Tambah sendiri, sepuasnya)

Mari bersyukur dan mengapresiasi pemberian Tuhan, sekarang juga. :D
Depok, Juni 2012
-Mega-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar