Dalam hidup ini kita sering
meremehkan hal yang semestinya kita syukuri. Betapa kita selalu mengeluh dan
mengeluh. Fokus dengan apa yang kita tidak punyai, lakukan dan belum kita
dapatkan. Contoh kecil aja, kita jarang banget bersyukur kalo kita bisa kentut.
Bagi yang muslim, bilang Alhamdulillah aja enggan karena kentut dianggap najis.
Kentut atau flatus dalam
istilah medis adalah hasil kerja berat yang dilakukan oleh sistem penceraan
kita. Pernah gak kepikiran sampe situ?
Ni coba simak copasan
saya tentang kentut dari blog sebelah
“Flatus merupakan gejala
dari dua peristiwa yaitu : menelan udara dan fermentasi karbohidrat yang tidak
dapat diserap oleh bakteri. Udara yang tertelan yang tidak dikeluarkan dengan
sendawa akan menyebabkan kentut. Udara yang tertelan lebih dari 500 mL perhari
akan menyebabkan flatus (terutama nitrogen). Fermentasi karbohidrat yang tidak
dapat diserap oleh bakteri akan menghasilkan gas yang terdiri dari H2 , CO2 dan
metana. Sebagian besar fermentasi terjadi dikolon. Bagaimanapun juga hal ini
disebabkan oleh banyaknya substrat kecil yang dapat difermentasi terdapat
dikolon. Substansi ini termasuk fruktosa, laktosa, sorbitol, trehalose,
raffinose dan stachynose. Zat tepung dan serat yang kompleks juga menyebabkan
gas. Produksi gas juga mungkin meningkat pada meningkatnya asupan karbohidrat
dan malabsorbsi karbohidrat”
Ribet kan prosesnya? Kita
sebagai manusia awam, nggak kepikiran sampe sebegitu ribetnya kentut. Nggak
kepengen tahu juga dalam kentut senyawa apa aja yang terlibat dan enzim apa aja
yang memproduksi kentut. Yang penting kalo udah kentut, perut rasanya lega. Hari
rasanya indah. Apalagi kalo ampe menghasilkan bunyi yang mirip sama mercon.
Beuuuuhhhhh sorga dunia banget.
Coba deh sekali aja
temans berpikir iseng, bagaimana kalo
kita tidak kentut?! Pasti menderita bukan? Gue baca di salah satu artikel
kesehatan: Konsekuesi Tidak Kentut ADALAH Mati. Emang si kematian rahasia Tuhan,
tapi gimana aja gitu kalo kita jadi headline
news di koran nasional dengan tajuk: ORANG
INI MATI KARENA TIDAK BISA KENTUT
Emang seberapa pentingnya
si kentut itu? Gini ni, tubuh kita akan membuang zat-zat berlebih atau yang
tidak berguna. Nah zat yang dikeluarkan
bisa berupa air seni (dari dulu mikir, bisa nyanyi nggak ama main gitar), lewat
keringet, lewat kotoran, lewat sendawa dan lewat kentut.
Kentut berfungsi membuang
gas yang ada di dalam usus kita. Coba kalo nggak kebuang? Gas itu bisa membuat
usus kita pecah temans. Tau kan prinsip
tekanan udara? Semakin kuat tekananya semakin kuat daya ledaknya, maka dari itu
harus ada sistem pembuangan.
Mari syukurilah kentut
kita, buang air kita, keringat kita...
Mulai bersyukur dari yang
kecil dulu, mulailah berdoa dengan bersyukur bukan meminta. Apalagi minta
kentut temans bisa jadi bahan bakar satu negara. Oh sangat muluk sekalih.
Jangan mengeluhkan
sesuatu yang tidak kita punyai seperti mobil ferari dan pasangan yang nggak good
looking (curcol), coba kalo punya itu semua nggak bisa kentut? Semua keindahan
dunia tidak bisa menjadi indah lagi.......
Lalu apakah bersyukur saja sudah cukup?
Jawabanya adalah BELUM.
Kog gitu? Apa yang harus kita lakukan setelah bersyukur masih bisa kentut?
Bikin kentut kita jadi bahan bakar satu negara?
Jawabanya: BUKAN
Lhoh, lalu apa?
Setelah kita bersyukur, Pertama, kita harus mempertahankan iman
kita. Karena bersyukur adalah bukti iman kita pada Tuhan. Kedua, kita harus juga memelihara sumber kenikmatan kita.
Kalo mau kentut teratur
ya perhatikan apa yang kita konsumsi, jangan tabung gas elpiji ditelen.
Kalo nggak mau sakit dan
akhirnya mengeluh ya jaga kesehatan.
Kalo nggak mau kebanjiran
dan akhirnya mengeluhkan sistem drainase yang emang udah jelek, ya jangan buang
sampah sembarangan, dan kalo bangun sesuatu analisa dulu dampak lingkunganya
Kalo mau naik kelas, ya,
harus ikuti ujian dulu dengan sungguh-sungguh, jangan cari jalan pintas aja
maunya. Ntar kalo udah dapet jalan pintas tapi nggak berhasil, marah-marah sama
Tuhan. Bilang Tuhan nggak adil lah, bilang orang lain lebih beruntung lah. Dan
lah lah lainnya.
Bersyukur yang baik
ternyata tidak sekedar bilang Thanks God, lantas update status ke facebook atau
nggak ngetweet, unggah gambar kita
sehabis kentut :D.
Ingat, bersyukur itu
adalah bertanggung jawab juga kepada nikmat Tuhan. Dengan menjaga apa yang sudah kita peroleh,
berusaha sungguh-sungguh dan tidak melakukan jalan pintas yang ujung-ujungnya
jadi kufur nikmat (enggan mengakui nikmat yang sudah diberikan).
Lalu apa bahaya dari
kufur nikmat?
1. Serakah
2. Penyakitan
3. Hidup dipandang
sebagai penderitaan
4...... (Tambah sendiri,
sepuasnya)
Mari bersyukur dan
mengapresiasi pemberian Tuhan, sekarang juga. :D
Depok, Juni 2012
-Mega-
-Mega-





Tidak ada komentar:
Posting Komentar