Kali ini saya akan membahas tentang kebetulan, karena redaktur bulan ini minta tema itu. Kebetulan itu ada apa nggak?
Tuhan tidak pernah bermain dadu kata Engkong Einstein, apalagi main halma kata Saya
Perumpamaan yang diungkap Engkong yang menemukan rumus E= MC2 itu membuktikan pada kita bahwa apa yang terjadi di dunia ini sudah diatur sedemikian rupa, dan akan saling berkaitan seperti benang takdir.
Tuhan yang gak seneng main dadu apalagi judi (masa Tuhan bikin dosa juga?) menciptakan semesta ini sejak milyaran tahun lalu dengan ukuran yang pas, tiak lebay apalagi kurang. Ya..meskipun Tuhan memberikan kehendak bebas dalam diri manusia untuk memilih jalan ke arah manapun, tapi akhir eksekusi tindakan sudah ditentukan oleh-Nya.
Semua yang kita lakukan, segala langkah yang kita rencanakan dan jalankan sudah diketahui Tuhan, tapi Tuhan gak mau kasih tau dengan pertanda apapun, meskipun kadang-kadang Tuhan kasih semacam pertanda lewat hal yang disebut firasat dan kebetulan.
Dalam menjalani proses kehidupan kita sering banget menemukan hal yang kita claim sebagai kebetulan, peruntungan, mata dadu yang kita inginkan dalam perjudian hidup (istilah saya aja). Padahal, itu memang sudah terukur dan digariskan Tuhan.
Saya akan berikan contohnya dari salah satu pengalaman pribadi saya:
Pada suatu masa, saya pernah bercita-cita pergi ke Dieng karena gebetan di tempat kursus bahasa Inggris saya, kampungnya di Wonosobo. Saat itu saya berkhayal akan pergi ke sana dengan gebetan saya itu dan menikmati sate jamur sambil menikmati indahnya panorama Dieng. Lalu setahun kemudian kami berpisah karena masa kursus telah usai. *nyeka air mata*
Pada tahun yang sama saya masuk universitas, dan punya seorang teman yang kampung halamannya di Wonosobo. Anehnya lagi dia juga suka berpetualang seperti saya. Ketika liburan semester genap, ia mengajak saya jalan-jalan ke kampung halamanya dan tentu saja ke Dieng.
Hal tersebut kalo saya pikirin ulang memang patut disebut sebagai kebetulan, tapi kalo saya inget rukun iman nomer enam, yaitu percaya qodo dan qadar, saya jadi inget bahwa di dunia ini gak ada yang kebetulan. Semua sudah ditetapkan. Dari cita-cita saya pergi ke dieng sampai saya sampe ke sana sudah ditetapkan, tapi Tuhan gak mau kasih tau caranya, karena Tuhan mau akal saya lo Tuhan kasih tau saya bakal sampe ke sana, saya gak mungkin usaha untuk menabung, melawan calo2 ganas di Pulo Gadung dan berdoa kepada Tuhan supaya diberi keselamatan.
Kebetulan itu pencitraan manusia terhadap bagian dari design Tuhan yang mencengangkan, karena akal manusia tak akan pernah mampu mengerti mengapa takdir setiap orang bisa sedemikian bertalian.
Hari ke delapan di bulan Juli yang terang, 2011


Tidak ada komentar:
Posting Komentar